Diserang Lalat Buat, Harga Jeruk asal Desa Selorejo Anjlok

Mahmudan • Dipublikasikan Senin, 21 April 2025 | 18:02 WIB
KUALITAS MEROSOT: Seorang petani di desa Selorejo, Kecamatan Dau memanen jeruk di perkebunan kemarin. (INDAH MEI YUNITA/RADAR KANJURUHAN)
KUALITAS MEROSOT: Seorang petani di desa Selorejo, Kecamatan Dau memanen jeruk di perkebunan kemarin. (INDAH MEI YUNITA/RADAR KANJURUHAN)

DAU - Harga jeruk asal Desa Selorejo, Kecamatan Dau menurun drastis.

Seringnya hujan membuat buah yang siap panen terserang lalat buah.

Sehingga secara fisik, jeruk tersebut bisa dibilang cacat.

Kulit tidak lagi mulus ditambah ada bercakbercak kasar yang membuat harganya menurun.

Arifin, salah satu buruh tani jeruk mengatakan, akibat penyakit tersebut, jeruk yang seharusnya bisa masuk supermarket, hanya bisa dijual di pasar tradisional. “Harganya pun anjlok. Biasanya Rp 7.000 per kilogram, sekarang hanya Rp 4.000 per kilogram,” ucapnya kemarin (20/4).

Pria 35 tahun itu juga menyebut, kondisi yang sama hampir terjadi pada setiap panen saat musim hujan.

Berbeda dengan panen di musim kemarau pada Juli.

Kualitas buahnya jauh lebih bagus.

Harganya pun bisa bersaing.

“Tapi secara jumlah, lebih banyak kalau musim peng hujan. Kalau musim hujan seperti ini, bisa panen 10 ton dari lahan 1.700 meter persegi. Kalau musim kemarau ya cuma 4 ton, tetapi kualitas dan harganya lebih bagus,” kata dia.

Hal yang sama juga disampaikan Suliyono, salah satu buruh tani asal desa yang sama.

Di lahan tersebut juga terdapat penurunan kuantitas.

Dari yang awalnya sekitar 4 ton per 1.000 meter persegi, menjadi 2 ton per meter persegi.

”Biasanya bisa jual Rp 6.000, tapi karena hasilnya tidak maksimal ya hanya Rp 4.000 per kilogram,” ungkapnya.

Sehingga saat panen kali ini, pihaknya menerima Rp 8 juta. Padahal biaya perawatan pohon jeruk cukup tinggi.

Dalam satu kali pemupukan bisa mengha biskan pupuk 1 kuintal.

”Pupuknya pakai grower yang dicampur ZA,” kata dia.

Dalam satu kali pemupukan menghabiskan Rp 860 ribu untuk pupuk grower dan Rp 350 ribu untuk pupuk ZA.

Jika ditotal, dalam satu kali pemupukan bisa menghabiskan sekitar Rp 1,2 juta per 1.000 meter persegi.

Pemupukan dilakukan tiga kali dalam satu tahun.

Sehingga dalam satu tahun bisa menghabiskan Rp 3,63 juta.

Biaya tersebut belum termasuk pestisida yang bisa mencapai Rp 4 juta untuk 30 kali penyemprotan dalam satu tahun. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
kecamatan dau Lalat buah musim penghujan jeruk Harga Kabupaten Malang Panen anjlok Desa Selorejo