TUREN - Ribuan bunga tertata rapi di greenhouse seluas 1.500 meter persegi. Berbagai jenis tanaman hias seperti anggrek dan bambu hoki meja mewarnai kebun yang diberi nama Kebun123. Sayangnya, kebun di Desa Kemulan, Kecamatan Turen itu semakin sepi pengunjung.
“Ramai-ramai dikunjungi hanya saat akhir pekan. Kalau sekarang tidak pasti. Sehari berkisar 10-60 pengunjung,” ujar Kepala Toko Kebun123 Johar Septiawan.
Mayoritas pengunjung berasal dari Malang dan sekitarnya. Sedangkan jika penjualan secara daring sudah menembus ke seluruh daerah di Indonesia. Hanya saja, penjualan dilakukan secara manual, belum melalui marketplace.
Pria yang akrab disapa Iwan itu menyebut, kebanyakan masyarakat membeli anggrek. Di tempat tersebut, ada puluhan jenis anggrek. Seperti alokasia, anthurium, dan anggrek bulan.
“Untuk anggrek, harganya tergolong terjangkau, mulai Rp 5.000 sampai Rp 400 ribu. Kalau hybrid sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu,” kata Iwan.
Untuk diketahui, anggrek hybrid merupakan hasil persilangan antara dua atau lebih spesies anggrek yang berbeda.
Baik dari spesies yang masih satu genus maupun dari genus yang berbeda. Persilangan tersebut untuk menghasilkan tanaman baru dengan sifat-sifat unggulan dari induknya.
Per hari, omzetnya pun tidak menentu. Kadang sehari hanya Rp 50 ribu. Namun saat ramai bisa mencapai Rp 10 juta. Harga tanamannya pun bervariasi. Ada juga yang sampai Rp 3 juta per tanaman.
“Momen ramai dulu pas pandemi Covid-19. Setelah itu mulai sepi. Paling hari-hari biasa pas tanggal muda dan selain masa penerimaan siswa baru,” kata dia.
Untuk mengatasinya, ke depan pihaknya akan menentukan target pasar yang lebih spesifik. Salah satunya ditentukan berdasar bunga yang paling banyak diminati.
Yakni anggrek spesies atau anggrek yang belum dilakukan persilangan. Meski begitu, pihaknya tetap menyediakan bunga jenis lainnya sebagai variasi. (dan)
Editor : A. Nugroho