KEPANJEN – Produksi tebu di Bumi Kanjuruhan meningkat setiap tahun, namun hanya sebagian kecil yang masuk Pabrik Gula (PG) di Malang Raya. Mayoritas tebu lokal dikirim ke luar Malang raya, baik ke Blitar, Kediri, maupun daerah lain.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, produksi tebu pada 2023 lalu mencapai 4,02 juta ton.
Setahun kemudian, yakni 2024 meningkat menjadi 4,21 juta ton pada 2024. Tidak diketahui berapa persen yang masuk PG lokal, seperti PG Krebet Baru di Bululawang dan PG Kebonagung di Pakisaji.
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum PG Krebet Baru Amalia Sisdyanti tidak menjawab detail ketika dikonfirmasi mengenai berapa persen tebu lokal yang masuk penggilingan PG Krebet Baru. ”Yang dari luar kota memang lebih banyak,” kata Amalia kemarin.
Demikian juga PG Kebonagung yang tidak merespons saat dikonfirmasi sejak beberapa hari lalu. Berdasarkan data ajang National Sugar Summit (NSS) 2024, PG Kebonagung menargetkan pasokan tebu Rp 1,8 juta ton tahun ini.
Pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan di jalur Kepanjen-Blitar kemarin (11/6), banyak tebu luar Malang Raya yang masuk ke PG Krebet Baru maupun PG Kebonagung. Sementara tebu lokal berbondong-bondong keluar Malang dan menuju Blitar.
Untuk diketahui, PG di Blitar adalah PT Rejoso Manis Indo (RMI). Sedangkan di Kediri ada PG Mrican, dan PG Pesantren Baru.
”Di sini (PG di Malang Raya), cairnya belum tentu bisa sebulan. Kalau di luar, sebulan bisa dua kali cair,” kata Nonil, salah seorang sopir truk yang mengangkut tebu dari Malang ke Blitar.
Pria berusia sekitar 40 tahun itu rutin mengangkut tebu lokal Malang ke Blitar. ”Saya tidak sendiri. Kendaraan lain juga banyak yang mengirim ke arah barat (Blitar dan Kediri,” terang Nonil sembari bersantai di area SPBU Sumberpucung. Di kawasan tersebut terdapat beberapa truk pengangkut tebu berjajar. (yun/biy/dan)
Editor : A. Nugroho