MALANG – Rendahnya Harga Eceran Tertinggi (HET) membuat bisnis penggilingan padi kesulitan memasarkan beras medium. Keluhan itu disampaikan Hatta Zakaria, pemilik bisnis penggilingan padi di Desa Sumberjaya, Kecamatan Gondanglegi saat menerima kunjungan Bupati Malang H M. Sanusi kemarin.
Menurut dia, HET beras yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) terlalu rendah. Sementara, versi dia, harga gabah kering panen (GKP) masih relatif tinggi, sehingga tidak nutut jika dia memproses gabah kering menjadi beras. “Memasarkan di lembaga pemerintah itu tidak nutut harganya untuk beras medium, sedangkan (memasarkan) premium juga sulit,” ucap Hatta.
Saat ini, HET untuk beras medium berkisar Rp 12.500 per kilogram untuk pulau Jawa. Sedangkan beras premium Rp 14.900 per kilogram. “Cuma sekarang harga GKP di petani Rp 7.500 per kilogram. Jadi, terpaksa kami menjual beras tersebut Rp 13.000 per kilogram,” imbuhnya.
Sedangkan beras premium dijual Rp 15.000 per kilogram. Karena sebelum menjadi beras premium, ada proses tambahan. Misalnya pemolesan beras dan pemisahan kulit-kulit gabah yang masih tersisa. Sehingga beras premium lebih mudah dibersihkan dan tidak menghasilkan air leri.
Setiap hari, mesin penggilingan beroperasi pukul 07.00-15.30. Mesin berkapasitas 3 ton tersebut mampu menggiling 20-30 ton padi. Padi tersebut diperoleh dari petani dari Dampit, Gondanglegi, Pagelaran, Kepanjen, Pakisaji, dan Bululawang. Hasil gilingan dipasarkan di Malang Raya. “Sudah sekitar dua minggu ini, pasokan turun jadi 15-20 ton per hari. Mungkin karena memang belum ramai-ramainya orang panen saja,” kata Hatta.
Meski demikian, pasokan padi tidak pernah terlambat. Setiap hari pasti ada yang digiling. Sebab panen bergiliran. Misalnya pekan ini petani di Kepanjen belum panen, bisa jadi petani di Gondanglegi yang panen.
Dia juga menyebut, selain harga, kendala lainnya adalah kurangnya regenerasi petani padi. Banyak anak-anak muda yang tidak tertarik menjadi petani padi. Mereka lebih memilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Oleh karena itu, dia khawatir, hal tersebut dapat memengaruhi pasokan padi ke depannya. (yun/dan).
Editor : A. Nugroho