MALANG KOTA - Mobil hybrid berada di peringkat kedua dalam strata kehematan biaya operasional jangka panjang. Nomor satu ditempati electric vehicle (EV) dan nomor tiga adalah mobil konvensional. Itu yang menjadi alasan mobil hybrid kerap disebut mobil “nanggung”.
Karena itu, pemilik diler memiliki banyak tantangan tersendiri dalam hal penjualannya. Terutama dalam mengedukasi pelanggan terkait penghematan biaya operasional dan perawatan yang lebih murah.
Direktur PT Gatra Perdana Putra Yudi Irawan Wijaya menuturkan, selama semester pertama 2025 hanya 3-5 unit mobil hybrid yang terjual. Angka itu masih sebanding dengan penjualan di semester pertama tahun 2024. Artinya, penjualan mobil Hybrid memang masih perlu digenjot lagi. “Perbandingan itu kami lihat dari penjualan mobil Wuling Almaz Hybrid 2024,” ujar Yudi.
Pada awal tahun itu, Almaz Hybrid terjual sekitar 3-4 unit. Sementara tahun ini, Wuling sudah mengeluarkan mobil series Almaz Hybrid baru, namun penjualan tidak berkembang. Penjualan mobil hybrid yang stagnan juga dialami merek Hyundai. Awal tahun ini, brand asal Korea Selatan itu memasukkan seri Santa Fe Hybrid. Namun, hingga bulan ini penjualannya juga belum meningkat secara signifikan.
”Baru bulan lalu ada seri baru lagi, All New Palisade Hybrid, saat ini yang sudah dibeli sekitar 5 orang,” tutur Yudi. Kalau yang masih inden sudah lebih dari 10 unit. Sebab penjualan mobil-mobil Hyundai memang bergantung suplai. Yudi menilai rata-rata mobil hybrid masih masuk segmen high end. Karena itu, para penjual harus pintar memberikan edukasi kepada para pembeli tentang keunggulan mobil tersebut.
Yang tidak kalah penting adalah penjelasan terkait perbandingan biaya operasional dengan mobil konvensional dan EV. Menurutnya, terkadang pembeli hanya menghitung harga jual dan belinya saja. Lupa kalau biaya operasional seperti bensin, oli, busi, filter, hingga pajak bisa seharga satu mobil dalam lima tahun. (aff/fat)
Editor : A. Nugroho