RADAR MALANG – Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi momok bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Meski dalam beberapa bulan terakhir tekanan inflasi dalam negeri relatif terkendali, geliat pasar internasional tetap memunculkan volatilitas tersendiri pada nilai tukar rupiah.
Sektor perdagangan dan ekspor-impor yang bergantung pada stabilitas mata uang pun terus beradaptasi. Pelaku usaha kecil hingga eksportir nasional mulai berhitung ulang dalam menyusun strategi. Di tengah tantangan itu, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyedot perhatian pelaku pasar.
Senin pagi (28/7), nilai tukar dolar AS terhadap rupiah terpantau mengalami penguatan tipis. Data dari Bloomberg menunjukkan, dolar AS kini bertengger di level Rp 16.327 per dolar, naik sekitar 7 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya. Meski tidak besar, tren penguatan ini menambah tekanan bagi rupiah yang sebelumnya sempat menguat tipis di akhir pekan lalu.
Di pasar global, mata uang Paman Sam menunjukkan performa bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,14 persen dan terhadap pound sterling sebesar 0,01 persen. Namun sebaliknya, melemah terhadap dolar Australia (0,03%), dolar Singapura (0,04%), euro (0,08%), serta yuan China (0,02%).
Penguatan ini bukan semata-mata terjadi akibat kondisi internal AS, melainkan turut dipengaruhi sentimen eksternal yang bersifat spekulatif. Rencana bank sentral AS (The Fed) terkait arah kebijakan suku bunga acuan menjadi salah satu pemicu utama penguatan mata uang negeri Paman Sam.
Di dalam negeri, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga stabilitas rupiah agar tetap berada dalam kisaran yang sehat. Intervensi pasar dan strategi penguatan cadangan devisa menjadi dua pendekatan utama yang terus digencarkan.
Namun demikian, penguatan dolar AS berdampak nyata pada pelaku usaha di dalam negeri. Beberapa importir mengaku mulai menahan pembelian barang dari luar negeri sembari menunggu kondisi kurs lebih stabil. Tak sedikit pula perusahaan ekspor yang justru menyambut positif tren ini, karena akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Pengamat pasar keuangan, Deni Prasetyo, menilai penguatan dolar AS hari ini masih dalam batas wajar dan cenderung teknikal. “Belum ada kejutan besar. Tapi pelaku pasar tetap perlu waspada, karena ketegangan geopolitik di Asia dan Timur Tengah bisa mengganggu arah pasar,” ujarnya.
Bagi masyarakat umum, penguatan nilai tukar dolar AS biasanya akan berdampak pada harga barang impor dan kebutuhan pokok tertentu. Oleh sebab itu, edukasi finansial dan kebijakan fiskal yang adaptif dinilai penting dalam meredam gejolak yang mungkin terjadi.
Sejauh ini, belum terlihat langkah lanjutan dari BI terkait respons atas penguatan dolar pagi ini. Namun sinyal kehati-hatian dan koordinasi lintas sektor diyakini akan tetap dijaga untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. (id)
Editor : A. Nugroho