Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemkab Malang Uji Coba Padi Varietas Unggul di 30 Hektare Lahan: Produksi Capai 13,6 Ton per Hektare

Mahmudan • Kamis, 7 Agustus 2025 | 17:55 WIB
PRODUKSI MENINGKAT: Petani memanen padi di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan beberapa waktu lalu. Kawasan tersebut menjadi salah satu lahan percontohan untuk ditanami padi menggunakan varietas unggu
PRODUKSI MENINGKAT: Petani memanen padi di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan beberapa waktu lalu. Kawasan tersebut menjadi salah satu lahan percontohan untuk ditanami padi menggunakan varietas unggu

KEPANJEN – Berbagai cara dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, khususnya padi. Kali ini melalui pengembangan bibit padi yang unggul jenis inbrida varietas sukma. Tahun ini ada 15 lahan percontohan (demplot) sawah untuk uji coba varietas tersebut. Masing-masing titik memiliki luas 2 hektare, sehingga ada 30 hektare demplot.

Salah satu uji coba tersebut ditanam oleh Kelompok Tani Tani Mulyo, Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan. Saat panen pada awal Juni lalu, mereka menghasilkan 13,6 ton padi per hektare. Padahal, produksi padi rata-rata di Kabupaten Malang hanya 7-8 ton per hektare. Dengan demikian, varietas tersebut dinilai mampu meningkatkan produksi padi di Kabupaten Malang.

“Dengan rata-rata panen 10 ton per hektare saja bisa meningkatkan produksi hingga 30 persen,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera kemarin.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu solusi semakin sempitnya lahan pertanian dari tahun ke tahun. Sehingga meski lahan berkurang, produksi padi secara keseluruhan tetap terjaga. “Ini juga sebagai salah satu langkah intensifikasi untuk meningkatkan produksi padi di Kabupaten Malang,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu

Seperti diberitakan padi sukma pertama kali dikembangkan oleh Ngateman. Dia adalah anggota Kelompok Tani (Poktan) Sukoraharjo, Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang. Padi tersebut sudah dikembangkan sejak 2009 lalu.

Kala itu, Ngateman menyebut hasil panen dari bibit tersebut berkisar antara 12-14 ton per hektare. Bahkan bisa lebih, asalkan penanaman sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dia terapkan. “Kalau mau hasil maksimal, jarak tanam harus 30-30-40 atau dibalik 40-30-30,” ucapnya.

Artinya, antara padi yang ditanam pada baris pertama dan kedua diberi jarak 30 sentimeter. Begitu pula dengan baris kedua dan ketiga. Sedangkan baris ketiga dan keempat diberi jarak 40 sentimeter. Dengan menerapkan jarak tanam tersebut, maka dapat meningkatkan produktivitas. Sebab, semakin banyak tanaman yang mendapat sinar matahari langsung. Selain itu, potensi anakan produktif juga lebih tinggi di tepi barisan. “Anakan padinya kan banyak, kalau jaraknya sempit, maka tidak bisa maksimal,” ucap Ngateman. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#DTPHP #Pertanian #Pemkab #malang #demplot padi