MALANG KOTA – Turunnya pelanggan di sejumlah kafe dan restoran kini bukan hanya dipicu oleh lesunya kondisi ekonomi. Beban tambahan berupa royalti lagu yang harus dibayar pelaku usaha turut memperberat situasi. Akibatnya, banyak pengusaha memilih untuk tidak lagi memutar musik demi memangkas pengeluaran dan bertahan di tengah ketatnya persaingan.
Mayoritas pelaku usaha melaporkan penurunan omzet yang cukup signifikan terutama pada Juli lalu. Kondisi itu diprediksi akan terus berlanjut hingga pertengahan September ketika mahasiswa sebagai salah satu pelanggan utama mulai kembali ke Kota Malang.
Muhammad Fachrur Roziqin, pemilik kafe Berkat Terang Jaya mengungkapkan, kini kafenya lebih memilih memutar lagu-lagu barat. Sebelumnya, musik indie dari Hindia, Feast, Nadin Amizah, hingga Lomba Sihir menjadi langganan di tempatnya yang mengusung konsep nuansa tahun 90-an.
”Cari aman saja, karena kalau bayar royalti di kondisi ekonomi seperti ini cukup berat,” ujarnya.
Menurut Roziqin, musik adalah bagian penting dari suasana kafe. Tanpa musik, atmosfer kafe yang bernuansa nostalgia tersebut terasa kurang hidup dan sedikit canggung.
Di tempat lain, Kholil, pemilik Pizza Combi memilih langkah berbeda. Dia memutuskan untuk tidak memutar musik sama sekali di restorannya. Menurutnya, beban royalti lagu yang harus dibayar sangat memberatkan, apalagi pendapatan usaha sedang menurun drastis.
”Jumlah royalti sebenarnya tidak terlalu besar bagi usaha yang lancar, tapi sekarang mayoritas lagi turun,” katanya.
Di restorannya yang memiliki 60 kursi, Kholil harus membayar royalti sebesar Rp 120 ribu per kursi per tahun. Artinya, total kewajiban mencapai Rp 7,2 juta per tahun, belum termasuk pajak dan biaya lain. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho