RADAR MALANG - Kota Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Jawa Timur. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang untuk menimba ilmu sekaligus menikmati suasana kotanya yang sejuk dan penuh destinasi menarik. Dari kafe kekinian di pusat kota, taman kota yang rindang, hingga wisata alam di Batu atau pantai-pantai Malang Selatan, banyak tempat yang menggoda untuk dijelajahi.
Namun, di tengah keinginan untuk berkeliling, mahasiswa dihadapkan pada dua pilihan transportasi populer: menyewa motor atau memesan ojek online (ojol). Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan yang membuat mereka harus menimbang biaya, waktu, dan kepraktisan.
Bagi sebagian mahasiswa, menyewa motor dianggap memberi kebebasan penuh. Mereka bisa mengatur jadwal sendiri, memilih rute sesuka hati, bahkan melipir ke destinasi yang jarang dilewati transportasi umum. Tarif sewa umumnya berkisar Rp 80.000 hingga Rp 120.000 per hari, belum termasuk bensin dan parkir. Namun, ada syarat yang sering jadi pertimbangan: penyewa harus menyerahkan identitas pribadi sebagai jaminan.
Di sisi lain, ojol menawarkan kemudahan tanpa repot memikirkan bensin, parkir, atau risiko kehilangan barang di parkiran. Tinggal buka aplikasi, masukkan tujuan, dan dalam hitungan menit kendaraan siap mengantar. Untuk jarak dekat di dalam kota, ongkosnya relatif terjangkau — apalagi jika ada promo.
Dini, mahasiswa asal Kediri yang kini sedang berkuliah di Malang, mengaku selama ini perjalanannya tidak pernah terlalu jauh sehingga merasa lebih hemat jika menggunakan ojol. “Lebih mahal kalau sewa daripada naik ojol. Plus kalau sewa juga harus ada identitas pribadi yang dipakai jaminan. Dan kalau naik ojol nggak bayar parkir kan, hehe,” ujar perempuan berperawakan tinggi ini.
Bagi Dini, kebutuhan transportasinya selama ini hanya untuk perjalanan singkat, seperti ke kampus, pusat perbelanjaan, atau tempat makan. Karena itu, ia merasa ojol lebih hemat dan praktis.
Meski begitu, ada juga mahasiswa yang lebih memilih sewa motor, terutama ketika agenda perjalanan padat dan destinasinya berjauhan. Misalnya, pagi hari berkeliling ke beberapa spot wisata dalam kota, lalu sore harinya kulineran di Batu sebelum kembali ke Malang pada malam hari. Dengan motor sewaan, biaya transportasi bisa ditekan dibanding memesan ojol berkali-kali.
Menurut Dini, faktor kenyamanan dan keamanan juga ikut memengaruhi pilihannya. Ia merasa lebih tenang saat diantar ojol, terutama jika melewati jalur yang ramai atau belum pernah ia lewati sebelumnya. “Kalau naik ojol kan tinggal duduk, nggak mikirin jalan atau macet. Apalagi kalau jalannya belum pernah aku lewati, jadi lebih aman,” tambahnya saat diwawancarai Kamis lalu (14/8).
Pada akhirnya, pilihan antara ojol dan sewa motor kembali pada kebutuhan dan kebiasaan masing-masing mahasiswa. Kepraktisan dan bebas ribet parkir membuat ojol unggul di perjalanan jarak dekat, sementara sewa motor memberi keleluasaan rute dan waktu bagi yang ingin menjelajah lebih jauh. Di kota seperti Malang yang penuh sudut menarik, keduanya sama-sama menawarkan cara berbeda untuk menikmati perjalanan—tinggal sesuaikan dengan rencana jalan, jarak tempuh, dan tentu saja isi dompet. (ys)
Editor : A. Nugroho