RADAR MALANG – Bisnis sewa motor di Kota Malang terus berkembang dengan beragam strategi. Dua pemilik usaha, Noel dan Muhammad Zulfikri (28), punya cara berbeda dalam melayani pelanggan. Sama-sama menyewakan motor dengan harga ramah di kantong, namun kebijakan layanan mereka justru berlawanan.
Noel memilih untuk tidak menyediakan layanan antar motor. Alasannya sederhana, rasa lelah. Setelah sebelumnya menghabiskan bertahun-tahun di usaha tour yang menguras tenaga, ia kini ingin menjalani bisnis dengan ritme lebih tenang.
“saya ngga ada cod, ngga melayani antar jemput, capek” ujarnya saat ditemui Selasa (12/8).
Baginya, sistem ini lebih praktis dari sisi pemilik. Ia tak perlu menghabiskan waktu di jalan, cukup fokus pada perawatan motor dan melayani pelanggan yang datang. Meski mungkin terkesan kurang fleksibel, Noel yakin pelanggan yang benar-benar membutuhkan motor tetap rela datang.
Berbeda dengan Noel, Zulfikri justru mengambil arah lain. Ia menyediakan layanan antar motor ke lokasi pelanggan, baik ke kos, hotel, maupun titik pertemuan lain. Strategi ini ditujukan untuk memberikan kenyamanan ekstra, terutama bagi mahasiswa dan wisatawan yang ingin serba cepat.
Meski kadang ada tambahan biaya Rp 15 ribu jika lokasi jauh, banyak pelanggan merasa lebih terbantu. Mereka bisa menghemat waktu dan tenaga, tinggal menunggu motor datang. Menurut Zulfikri, permintaan justru meningkat karena layanan ini dianggap memudahkan.
“Orang taunya dari instagram, biasanya minta anter motornya. Tapi ada biayanya, tergantung daerah, tapi biasanya Rp 15 ribu, kaya ke Terminal Arjosari itu Rp 15 ribu. Tapi kalo sewanya beberapa hari gitu, gaada biaya tambahan” jelasnya.
Dari sisi daya tarik, strategi Noel menonjolkan kesederhanaan dan efisiensi tenaga pemilik. Sedangkan strategi Zulfikri lebih menekankan kepraktisan bagi pelanggan. Dua pendekatan ini sama-sama punya pasar tersendiri. Ada yang lebih suka datang langsung untuk memastikan kondisi motor, ada pula yang rela membayar lebih biar praktis.
Cara yang ditempuh masing-masing pelaku usaha menunjukkan bahwa dalam persaingan, tidak ada strategi tunggal yang benar. Semua kembali pada pilihan, aman dan hemat tenaga ala Noel, atau praktis dan memanjakan pelanggan ala Zulfikri. (alf)
Editor : A. Nugroho