MALANG KOTA - Fluktuasi penyaluran kredit menjadi salah satu tolak ukur kondisi perekonomian di suatu daerah. Di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, tercatat ada pertumbuhan kredit hingga 11,59 persen secara year on year (yoy) pada bulan Juni. Nominalnya dari Rp 97,18 triliun pada Juni 2024, tumbuh menjadi Rp 108,45 triliun pada bulan Juni 2025.
Kredit investasi mengambil peran tertinggi. Pertumbuhannya mencapai 15,67 persen. Mayoritas penyaluran kredit digunakan untuk modal kerja sebesar 45,47 persen. Mengambil porsi 41,93 persen dari total keseluruhan penyaluran kredit. Dari angka itu, bisa dilihat ada kecenderungan bahwa warga di Kota Malang mulai berani mengembangkan usahanya dengan mengambil risiko kredit yang cukup tinggi.
”Saat ini di wilayah kerja OJK Malang, fokus kreditnya juga mengarah ke sektor perdagangan besar dan eceran,” ujar Kepala OJK Malang Farid Faletehan. Porsinya mencapai Rp 21,86 triliun, atau senilai 20,16 persen. Dilanjutkan dengan industri pengolahan sebesar Rp18,63 triliun dan mengambil porsi 17,18 persen.
Untuk kredit pemilikan rumah tangga lainnya, penyaluran mencapai Rp 16,82 triliun dengan porsi 15,51 persen. Lalu kredit selanjutnya diisi pemilikan rumah tinggal mencapai Rp 11,74 triliun dengan porsi 10,82 persen. Terakhir, ada kredit konstruksi sebanyak Rp 8,86 triliun atau setara 8,17 persen.
”Non-performing loan (NPL)-nya juga termasuk rendah,” lanjut pria asal Blora itu. Tercatat, pada bulan Mei 2025, NPL senilai 2,83 persen. Sementara bulan Juni turun menjadi 2,76 persen. Secara year on year (yoy), dibanding Juni tahun 2024, NPL pada bulan Juni 2025 masih tumbuh 0,31 persen.
Penurunan NPL itu menunjukkan ketertiban nasabah dalam membayar kredit. Sebelumnya, angka NPL sempat tinggi setelah digempur kabar perang dagang dan penurunan daya beli masyarakat sejak awal 2025. Sejak pertengahan tahun, trennya mengarah ke poin yang lebih baik. (aff/by)
Editor : A. Nugroho