Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bisnis Sembako Jadi Favorit Pengurus Koperasi Merah Putih di Kota Malang

Bayu Mulya Putra • Rabu, 17 September 2025 | 17:05 WIB
Dasar hukum operasi KMP.
Dasar hukum operasi KMP.

MALANG KOTA - Pemetaan unit bisnis yang hendak dijalankan terus dilakukan pengurus Koperasi Merah Putih (KMP) di Kota Malang.  Mayoritas memilih sembako dan LPG sebagai komoditas utama untuk unit bisnisnya. Sesuai regulasi, ada delapan unit bisnis yang bisa dijalankan pengurus KMP (selengkapnya baca grafis).

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi menyampaikan, pengurus KMP tidak wajib menjalankan semua unit usaha yang dianjurkan. Mereka bisa memilih sesuai kebutuhan masyarakat sekitar dan anggota KMP. ”Karena Kota Malang kawasan perkotaan, jadi terbanyak memilih sembako,” tutur Eko.

Untuk unit bisnis simpan pinjam, dia menyebut bahwa operasionalnya masih memerlukan waktu. Sebab, butuh modal besar untuk memulai unit bisnis itu. Selain itu juga harus ada standar jelas agar pinjaman yang diberikan tidak menjadi kredit macet.

”Kalau di (KMP) Cemorokandang ada yang sedikit berbeda, karena mereka masih ada lahan pertanian disarankan menyediakan pupuk,” terang Eko. Seperti diberitakan, dari 57 KMP di Kota Malang, baru dua yang aktif menjalankan operasional usaha. Selain KMP Cemorokandang, ada KMP Bumiayu, yang sudah menjalankan operasional koperasinya sejak 2017 lalu. 

Eko menekankan bahwa pemkot tidak ikut campur dalam penentuan unit bisnis yang dijalankan setiap KMP. Penentuannya jadi keputusan setiap pengurus. Kalau ada lurah yang terlibat, sifatnya hanya sebagai pengawas KMP. ”Tugasnya hanya menyarankan saja, keputusan final ada di masing-masing pengurus,” imbuh Eko.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, beberapa KMP kini mulai menjajaki unit bisnis yang hendak dijalankan. Seperti dilakukan KMP Kelurahan Karangbesuki. Rencananya, mereka bakal bergerak di sektor penjualan sembako. Seperti beras dan kebutuhan masyarakat lainnya. ”Karena baru memulai tahun ini, kami masih melakukan penjajakan ke mitra-mitra,” terang Ketua KMP Kelurahan Karangbesuki R. Susy Kurnia.

Dia mengaku, kalau saat ini sedang berkomunikasi dengan Bulog dan salah satu pabrik gula. Sempat pula pihaknya mendapat penawaran untuk berdagang elpiji 3 kg. Namun, lokasi koperasi masih belum representatif. Salah satunya dalam hal ventilasi.

Susy menambahkan, dalam penjualan sembako, pihaknya berencana menerapkan sistem pre-order. Dengan demikian, pihaknya tidak harus menyetok barang dalam jumlah banyak. ”Jadi tidak mubazir juga,” imbuhnya. Saat ini, pihaknya masih melakukan penjaringan anggota koperasi. Mereka menarget bisa mengumpulkan 300 anggota dalam tiga bulan. Terhitung sejak Juli lalu.

Di tempat lain, Pengurus KMP Cemorokandang Haryadi memastikan bahwa penjualan sembako, obat-obatan, dan pupuk terus berjalan. Tiga varian itu disediakan karena masih banyak warga Cemorokandang yang bekerja sebagai petani. Dari saran Pemkot Malang, KMP Cemorokandang memang diminta fokus pada penjualan pupuk.

Sebab, di sana ada potensi yang besar berdasar kondisi wilayah. ”(Varian) pupuk saat ini masih belum lengkap. Ke depan kami akan penuhi. Mulai dari pupuk urea, pupuk cair, dan lainnya,” imbuh dia. Untuk memenuhi itu, KMP Cemorokandang membutuhkan modal yang cukup besar. Kini, mereka masih menunggu suntikan modal dari pemerintah pusat. ”Ada juga rencana kerja sama dengan pihak ketiga, seperti bank. Saat ini masih didiskusikan (pengurus),” papar Haryadi.

Unit bisnis yang lebih beragam sudah dijalankan KMP Kelurahan Bumiayu. Pertama ada simpan pinjam, yang sekarang sudah menghasilkan omzet sekitar Rp 35 juta. Kedua ada usaha penjualan sembako seperti beras, minyak goreng, dan gula.

Harga jual sembako pun juga tetap dijaga agar tidak membebani masyarakat atau anggota koperasi. ”Sebagai contoh untuk beras harganya di kisaran Rp 74.500 sampai Rp 77.000,” sebut Ketua KMP Kelurahan Bumiayu Wusono. Pekan depan, pihaknya bakal merambah penjualan elpiji ukuran 3 kg. Jumlah elpiji yang disediakan sementara baru 200 tabung per bulan.

Wusono menjelaskan, untuk penjualan sembako, pihaknya menerapkan sistem pemesanan atau by order. Dengan begitu mereka tidak perlu men-stok barang. Meskipun terkadang sisa sedikit pada akhir bulan, jumlahnya tidak banyak.

Di samping itu, pihaknya juga menjamin bahwa harga sembako yang ditawarkan lebih murah. Ditambah lagi untuk anggota akan mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) pada akhir tahun. ”Upaya lain yang kami lakukan untuk menaikkan omzet yakni dengan kegiatan Jumat berkah. Setiap Jumat, harga sembako diturunkan dibanding hari-hari biasa,” imbuhnya. 

Dari dua kegiatan di koperasi itu, Wusono menyebut kalau saat ini omzet KMP Kelurahan Bumiayu sudah menembus Rp 185 juta. Itu berkembang dari modal awal senilai Rp 600 ribu. Meski sudah berjalan lama, Wusono menyebut kalau pihaknya tetap melakukan pengembangan. Khususnya pengembangan kapasitas anggota. Juga ada kerja sama dengan sejumlah mitra seperti Universitas Negeri Jember (UNEJ) untuk pemahaman administrasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan menerangkan, ada instruksi pemerintah pusat untuk memaksimalkan KMP sebagai pemasok kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Dalam waktu dekat, pemkot bakal mengumpulkan pengelola SPPG bersama pengurus KMP. ”Karena konsep SPPG harus menyerap bahan pokok dari lingkungan sekitar. Sehingga, selain KMP, nanti bisa kerja sama dengan gabungan kelompok tani dan pelaku urban farming,” papar Slamet. (adk/mel/by)

Editor : A. Nugroho
#Koperasi Merah Putih #dispangtan #sembako #Kota Malang #Diskopindag