MALANG KOTA – Bunga kredit diperkirakan kian ringan dalam tiga bulan ke depan. Penyebabnya, bank himpunan bank milik negara (himbara) kebanjiran likuiditas dari suntikan dana Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Belum lagi ditambah turunnya BI rate menjadi 4,75 persen dari sebelumnya 5 persen.
Kombinasi dua kebijakan itu membuat ruang gerak perbankan lebih leluasa. Dana segar harus segera disalurkan dan jalan tercepat adalah menyalurkannya ke kredit. Imbasnya, syarat yang sempat ketat diproyeksi ikut dilonggarkan.
”Ini momentum yang bagus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kami terus ekspansi agar UMKM bisa berkembang dengan tambahan modal usaha,” ujar Rulli Setiawan, Direktur Network and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara (Persero).
BTN, menurut Rulli, baru saja menerima suntikan dana Rp 25 triliun. Padahal proyeksi penyaluran dana selama ini per bulan hanya Rp 8–10 triliun secara nasional. ”Tidak menutup kemungkinan bunga kredit diturunkan untuk menarik minat calon kreditur,” jelasnya.
BTN kini memfokuskan penyaluran kredit pada tiga sektor utama. Yakni UMKM, kredit modal kerja, dan pembiayaan perumahan. Jika sektor itu bergerak, roda ekonomi diyakini ikut terangkat. ”Untuk KPR subsidi, bunganya memang tidak bisa diintervensi karena aturannya langsung dari pemerintah,” tambahnya.
Di Kota Malang, dampak positif paling cepat bakal terasa pada UMKM. Data menunjukkan 60 persen perputaran ekonomi di kota ini ditopang usaha mikro, kecil, dan menengah. Kemudahan akses kredit diyakini mampu mempercepat laju pertumbuhan sektor tersebut.
Tak hanya UMKM, sektor otomotif juga ikut berharap. Sales Manager Honda Mandalasena Daniel Davis menilai turunnya bunga kredit bisa mengerek penjualan mobil. ”Selama ini 60 persen transaksi mobil dilakukan dengan kredit. Kalau bunga turun dan syaratnya longgar, konsumen akan lebih berani mengambil cicilan,” ujarnya.
Daniel mengakui, ketatnya kredit beberapa tahun terakhir membuat penjualan otomotif tertekan. Namun dengan likuiditas bank yang tinggi, perbankan tak punya alasan untuk menahan kredit. ”Ini stimulus awal agar masyarakat kembali yakin membelanjakan uangnya, bahkan lewat kredit,” katanya.
Jika tren berlanjut, sektor usaha, perbankan, dan konsumsi rumah tangga bakal sama-sama diuntungkan. Pertumbuhan ekonomi daerah pun berpotensi merangkak naik, seiring derasnya kredit yang kembali mengalir ke masyarakat. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho