Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

2.542 Petani di Kota Malang Dapat Bantuan Pupuk

Bayu Mulya Putra • Kamis, 25 September 2025 | 17:35 WIB
RUTIN SUPLAI KE TOKO: Konsep urban farming sudah dikembangkan warga RW 8, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang sejak 2022 lalu.
RUTIN SUPLAI KE TOKO: Konsep urban farming sudah dikembangkan warga RW 8, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang sejak 2022 lalu.

MALANG KOTA - Tak banyak upaya yang bisa dilakukan Pemkot Malang untuk menghalau penyusutan lahan pertanian. Status kepemilikan lahan oleh warga jadi faktor utamanya. Salah satu program yang bisa dimaksimalkan yakni memberikan keringanan dan bantuan rutin kepada petani.

Kepala Dinas Ketahan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan mengatakan, salah satu kebutuhan krusial petani adalah pupuk. Pada 2025 ini, pemerintah menyediakan 1.158 paket pupuk subsidi. Pupuk tersebut dibagikan kepada 2.542 petani (selengkapnya baca grafis).

Perhatian Pemkot Malang untuk sektor pertanian.
Perhatian Pemkot Malang untuk sektor pertanian.

Dia menerangkan, kuota pupuk subsidi itu sudah sesuai dengan rancangan kebutuhan petani. ”Untuk kuota 2025, kami mulai merancang pada 2024 lalu. Untuk tahun depan, sudah dirancang mulai sekarang,” terang Slamet. Selain pupuk subsidi, Pemkot Malang juga memberikan bantuan benih. Khususnya untuk komoditas jagung dan padi.

Slamet menambahkan, untuk mempercepat dan menjaga kualitas panen, pihaknya juga memberikan bantuan alat pertanian. Ada yang berasal dari dana APBD Kota Malang. Ada juga yang berasal dari APBN. ”Kami tahun ini juga mendapat alat panen padi modern seharga Rp 500 juta dari pemerintah pusat. Sudah disalurkan bulan Juni lalu,” kata pejabat Eselon IIB Pemkot Malang itu.

Sedangkan yang berasal dari APBD, bantuan yang telah diberikan berupa alat pembajak atau traktor. Kemudian ada jaring pengaman untuk bulir padi. Lebih lanjut Pemkot Malang tak hanya memperhatikan pertanian konvensional.

Dengan terbatasnya lahan, konsep urban farming menjadi salah satu cara pemkot untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dari data dispangtan, ada 115 kelompok urban farming di Kota Malang. ”Tujuan awalnya urban farming itu sebagai cadangan pangan, agar masyarakat bisa memanfaatkan hasil pertanian sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, ada beberapa kelompok yang sudah bisa menjual kepada pelaku usaha,” papar Slamet.

Dia menyampaikan, ada empat kelompok urban farming yang telah melakukan ekspansi pasar. Di antaranya kelompok di Kelurahan Lesanpuro, Kelurahan Kebonsari, Kampung Botol di Tlogomas, dan Kampung Semar di Arjosari. ”Kami juga menjembatani kelompok tersebut dengan pelaku usaha. Salah satunya sudah kerja sama dengan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia),” imbuh Slamet.

Ke depan, urban farming diharapkan bisa menyuplai kebutuhan di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) dan koperasi merah putih. Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, saat ini hampir semua kelurahan di Kota Malang memiliki kelompok urban farming.

Salah satunya di RW 8, Kelurahan Lesanpuro. Kelompok urban farming tersebut memanfaatkan lahan kosong di sekitar balai RW dan halaman rumah warga. Pemanfaatan lahan maupun halaman rumah untuk pertanian perkotaan berlangsung sejak 2022. Diawali dari kelompok PKK dan beberapa warga.

Sekarang dikelola 20 orang yang merupakan perwakilan dari 9 RT di sana. Semula, warga menanam sayur-sayuran seperti tomat. Ada juga yang menanam cabai. Jika sudah panen, hasilnya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan masing-masing keluarga.

Agar warga lain ikut mendapat manfaat, penanaman sayur ditambah dengan menggunakan lahan di Balai RW 8. Saat itu, warga juga menanam sayuran lain seperti bayam brazil. ”Penanamannya dilakukan menggunakan metode hidroponik,” terang Suparno, Ketua RW 8 Kelurahan Lesanpuro.

Seiring berjalannya waktu, hasil pertanian perkotaan di sana tidak hanya dijual kepada warga di lingkungan RW 8, Kelurahan Lesanpuro. Namun juga menyasar salah satu toko modern di Kecamatan Klojen.

Dalam sepekan, Suparno menyebut bahwa pengiriman bayam brazil ke toko modern itu mencapai tiga sampai empat kali. Satu kali pengiriman sebanyak 30 sampai 40 kantong. ”Untuk harganya sekitar Rp 8 ribu (per kantong),” imbuhnya.

Bayam brazil dipilih karena menyesuaikan sayuran yang tidak ada di toko modern tersebut. Selain bayam brazil, mereka juga pernah menanam pokcoy. Namun karena perawatannya mahal, pengembangannya tidak dilanjutkan.

Urban farming yang diterapkan di RW 8 Kelurahan Lesanpuro juga mendapat stimulan dari pemkot. Terkadang mereka mendapat bantuan bibit cabai dan sawi. Juga ada bantuan sekam, pupuk, dan lainnya.

Ke depan, pihaknya bakal memfokuskan penanaman di sekitar Balai RW. Sebab, masih belum ada lahan kosong baru di sekitar sana yang bisa digunakan untuk pengembangan urban farming. (adk/mel/by)

Editor : A. Nugroho
#dispangtan #malang #Pemkot #APBD