MALANG KOTA – Harga emas terus merangkak naik. Hingga kemarin (28/9), logam mulia Antam dipatok Rp 2,29 juta per gram. Naik dibanding sehari sebelumnya. Kenaikan ini membuat pergerakan pasar emas di Kota Malang ikut berubah.
Alih-alih membeli, masyarakat justru ramai menjual emasnya. Para penggemar emas lebih memilih menahan diri menambah koleksi. Mereka menunggu harga kembali turun agar bisa membeli lagi. Kondisi itu dirasakan langsung para agen emas di lapangan.
”Kalau harga mahal seperti sekarang, pendapatan pasti menurun,” ujar Yanita, agen Pegadaian Cabang Malang. Biasanya ia bisa melayani hingga 30 nasabah yang membeli emas per bulan. Namun sejak harga meroket, jumlah nasabahnya turun.
Yanita bercerita, dirinya memulai usaha sebagai agen dengan sistem arisan logam mulia. Dari situ berkembang menjadi perpanjangan tangan Pegadaian yang menawarkan produk seperti pembelian emas, tabungan emas, hingga kredit usaha rakyat (KUR) tanpa jaminan.
Dalam kondisi normal, penghasilannya bisa tembus Rp 2–3 juta per bulan. ”Kunci menjadi agen itu kepercayaan. Harus jujur, karena modal utama kita memang kepercayaan nasabah,” tegasnya.
Kondisi berbeda dirasakan Wike Maulana Wati, pengurus agen Pegadaian Cabang Malang. Dari 50 agen yang dikelolanya, omzet justru naik karena tingginya harga emas. ”Agustus lalu perolehan hanya Rp 200 juta. Sekarang bisa Rp 300 juta dalam sebulan,” jelasnya.
Produk yang paling banyak diminati tetap cicil emas, gadai emas, dan KUR tanpa jaminan. Wike menambahkan, harga emas di agen dan di Pegadaian tetap sama. Bedanya, agen langsung mendapat keuntungan dari total transaksi yang dilakukan nasabah. ”Jadi meski pembeli emas baru berkurang, tetap ada perputaran uang dari gadai maupun cicil emas,” terangnya. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho