KEPANJEN – Setelah cabai merah besar sempat menembus harga Rp 50 ribu per kilogram, kini giliran telur ayam yang ikut naik. Dalam sepekan terakhir, harga telur di sejumlah pasar tradisional terus merangkak hingga menyentuh Rp 30 ribu per kilogram.
Di Pasar Kepanjen misalnya. Agus, seorang pedagang telur mengatakan, harga telur naik secara bertahap sejak awal Oktober. ”Semula masih Rp 26 ribu per kilo. Sekarang sudah sampai Rp 30 ribu. Naiknya seribu per hari,” ujarnya kemarin (12/10).
Agus mengaku tidak tahu pasti penyebab kenaikan harga tersebut. Namun ia menduga harga dari peternak memang sudah lebih tinggi. ”Biasanya dari peternak kisaran Rp 20–25 ribu. Sekarang sudah Rp 26–28 ribu. Jadi kami juga ikut naik,” jelasnya.
Kondisi ini membuat keuntungan pedagang makin menipis. Apalagi kondisi pasar sedang sepi. ”Kalau lebih dari Rp 30 ribu, pembeli bisa kabur. Jadi ya paling segitu batasnya,” tambah Agus.
Meski begitu, stok telur di lapaknya tetap stabil. Dalam sehari, ia masih bisa menjual sekitar 30 kilogram telur. Hal serupa terjadi di Pasar Pakisaji.
Pedagang bernama Suma mengungkapkan harga telur kini bertahan di kisaran Rp 29–30 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 27 ribu. ”Dari peternak saya ambil sudah Rp 28.500. Jadi mau tidak mau harga jual ikut naik,” katanya.
Ia mengaku tak berani menaikkan harga lebih tinggi. ”Kalau terlalu mahal, telur bisa tidak laku. Soalnya kalau terlalu lama disimpan, tampilannya kurang segar,” jelasnya.
Berdasar data dari laman siharkepo.malangkab.go.id, tren kenaikan harga telur di Pasar Kepanjen sudah berlangsung sejak 13 September. Saat itu rata-rata harga masih Rp 26 ribu per kilogram. Namun grafik terus menanjak hingga mencapai Rp 30 ribu pada Sabtu (11/10).
Sementara di Pasar Pakisaji, kenaikan harga mulai terasa sejak 6 September. Dari harga rata-rata Rp 25 ribu, kini telur bertahan di kisaran Rp 28–29 ribu per kilogram. (yad/adn)
Editor : A. Nugroho