Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Setahun PLN Pasang 144 Home Charging, Terbanyak Dilakukan di Kecamatan Lowokwaru dan Klojen

Bayu Mulya Putra • Senin, 27 Oktober 2025 | 18:32 WIB
Charger Mobil Listrik di Malang Raya
Charger Mobil Listrik di Malang Raya

MALANG KOTA - Pengguna mobil listrik terus bertambah. Itu terlihat dari peningkatan pengguna Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Malang Raya. Untuk diketahui, pemerintah pusat menarget ada 32 ribu SPKLU yang terpasang hingga 2030.

Di Malang Raya, jumlahnya sudah meningkat tiga kali lipat pada tahun ini. Pada akhir 2024, jumlah SPKLU masih delapan unit. Kini sudah ada 27 titik SPKLU (selengkapnya baca grafis). Tersebar di sejumlah tempat. Mulai dari Kantor PLN, hotel, hingga diler mobil.

Peningkatan jumlah SPKLU itu dilakukan berdasar peminat yang ikut bertambah. Pada 2024, rata-rata pengguna harian SPKLU di masing-masing titik berkisar 14 mobil. Kini masing-masing SPKLU paling tidak menerima lebih dari 20 pelanggan tiap harinya.

”Secara umum memang mengalami kenaikan, namun belum terlalu signifikan,” ujar Manajer PLN UP3 Malang Agung Wibowo. Peningkatan itu tidak hanya terjadi karena bertambahnya jumlah pengguna mobil listrik saja. Namun juga terjadi karena banyaknya wisatawan yang datang ke Malang Raya. Terutama saat ada libur panjang atau long weekend.

Pengguna mobil listrik yang meningkat juga berdampak pada permintaan pemasangan home charging. Sepanjang tahun ini, PLN UP3 Malang sudah memasang 144 home charging. Itu tersebar di lima kecamatan di Kota Malang. Permintaan pemasangan tertinggi terjadi di wilayah Kecamatan Lowokwaru dan Klojen.

Jumlah permintaan itu meningkat drastis ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Sebab, selama delapan tahun sejak permintaan pertama tahun 2017, pemasangan home charging baru dilakukan di 125 titik. Ditambah jumlah di tahun 2025, kini sudah ada 269 home charging yang terpasang.

Terbanyak ada di PLN Dinoyo dengan jumlah 148 pelanggan. ”Daya yang disalurkan sekitar 2.813 kVA,” lanjut Agung. Rata-rata daya yang dipasang sebesar 7.700 VA. Itu untuk pengisian delapan jam dengan harga Rp 1.644,52 per kWh.

Menurut Agung, harga pengisian yang murah membuat pengguna mobil listrik semakin tertarik untuk memasang home charging . Sebab selisih harganya hampir separo dari pengisian di SPKLU. Perbedaan mendasar hanya ada pada kecepatan mengecas saja. Sebab, pengisian daya di SPKLU hanya butuh waktu sekitar satu jam.

Pihaknya juga memberi stimulus bagi warga agar lebih masif memasang home charging. Yaitu dengan pemberian diskon pemasangan serta diskon tambah daya. Sudah beberapa kali diskon 50 persen untuk pemasangan dikeluarkan PLN. Terutama saat libur panjang atau hari besar nasional.

Sebagai contoh, pada pemasangan home charging 1 fasa, daya 7.700 VA dihargai Rp 7,4 juta. Namun setelah diskon, angkanya menyusut jadi Rp 3,7 juta saja. Begitu juga dengan home charging  3 fasa dengan daya 13.200 VA, harga awalnya Rp 12,7 juta, turun jadi Rp 6,3 juta.

Kendalanya pengisian dengan home charging hanya terjadi pada durasi waktu yang lebih lama. Sebab, tidak memungkinkan memasang home charging dengan tipe fast charging seperti di SPKLU. ”Risikonya terlalu tinggi untuk pemasangan di rumah, karena membutuhkan daya hingga 50 ribu watt,” papar Agung.

PLN UP3 Malang menyiasati lamanya pengisian home charging itu dengan diskon 30 persen. Khusus untuk pengisian pukul 22.00 sampai 05.00. jadi, pemilik kendaraan bisa tidur sembari mengisi daya mobilnya tanpa takut over charger. Namun diskon itu memiliki beberapa syarat.

Salah satunya home charging harus terhubung dengan internet agar data diskonnya bisa terintegrasi dengan sistem PLN. Peningkatan SPKLU dan home charging itu jelas mengindikasikan perkembangan pengguna mobil listrik. Sejalan dengan tujuan pemerintah mengurangi emisi gas buang.

Roni, salah satu penggunaan home charging menuturkan, dia memasang sistem pengisian di rumah karena lebih fleksibel. Warga Kecamatan Klojen itu mengatakan bahwa harga pemasangan dan pengisian home charging juga cukup menjanjikan untuk jangka panjang. Sebab, dia memasangnya saat diskon.

Roni sendiri tidak menggunakan mobil listrik terus-menerus sepanjang hari. Sebagai contoh, rutinitasnya bekerja di kantor dimulai sejak pukul 08.00 hingga 16.00. Jarak rumahnya dengan kantor juga cukup dekat, sekitar 10 kilometer saja. Dia menggunakan mobil listrik Wuling Air EV dengan kapasitas baterai 17,3 kWh yang mampu menempuh jarak 200 kilometer.

”Paling biasanya charging mobil lima hari sekali, itu bisa dilakukan malam hari,” ujarnya. Ketika bepergian jauh, baru Roni menggunakan SPKLU. Tapi itu jarang terjadi kecuali ketika ada momen libur panjang.

Berdasar hitungan sederhananya, mobilitas Roni dari rumah ke kantor  tidak sampai 25 kilometer untuk pulang-pergi setiap hari. Karena jarak tempuh baterai mobilnya sampai 200 kilometer, paling tidak dia mengisi daya beberapa hari sekali.

Dengan kapasitas baterai 17,3 kWh dan per kWh seharga Rp 1.644,52 saja, tiap pengisian baterai Roni hanya menghabiskan Rp 28,5 ribu. ”Paling tidak sebulan habisnya Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu saja kalau sedang tidak ada perjalanan jarak jauh,” lanjutnya.

Sementara ketika mobilnya menggunakan SPKLU, ongkos pengisian bisa sampai dua kali lipat. Dengan harga Rp 2.499/kWh, Roni harus merogoh kocek Rp 160 ribu sampai Rp 200 ribu per bulannya. (aff/by)

 

Editor : A. Nugroho
#mobil listik #Malang Raya #PLN #SPKLU