MALANG KOTA – Meningkatnya permohonan pemasangan home charging berbanding lurus dengan penjualan mobil listrik. Di Malang, pasar mobil listrik makin dilirik. Itu terlihat dari peningkatan penjualan di masing-masing diler (selengkapnya baca grafis)
Diler mobil listrik BYD di Jalan Jaksa Agung Suprapto mengungkap adanya peningkatan penjualan. Tahun ini menargetkan penjualan 350 unit, hingga Oktober ini sudah terealisasi 80 persen.
Sales Supervisor BYD Haka Malang Stefan Pranata memaparkan beberapa alasan mendasar peminat mobil listrik kian meningkat. Pertama, masyarakat mulai teredukasi penggunaan mobil listrik hemat energi dan murah. Selain itu, biaya perawatan juga cenderung kecil karena part mobil tidak banyak. ”Kami masuk ke Kota Malang sejak Agustus 2024. Sampai saat ini peminatnya terus meningkat,” ujar Stefan kemarin.
Produk andalan mereka adalah BYD M6, Sealion, dan Atto 1. Ketiganya digemari karena harga yang kompetitif dengan fitur lengkap. Dia mencontohkan mobil listrik terbaru, dadi BYD ada BYD Atto 1 dengan harga mulai Rp 195 juta per unit. Kapasitas baterai 38,88 kWh dengan jarak tempuh hingga 380 kilometer. Mobil tersebut cocok di daerah perkotaan karena driving mode sudah lembut dan responsif.
Untuk Kota Malang yang sering banjir, dia mengatakan, BYD Atto 1 tidak mengalami kendala karena sudah memakai traction control system (TCS). Fungsinya mencegah ban selip saat berkendara di jalanan licin. Selain itu, juga ada Electronic Stability Control (ESC) yang membantu menjaga stabilitas mobil saat berbelok cepat atau melintas di jalan licin.
Kemudian model kedua yang digandrungi adalah BYD M6. Dengan kapasitas baterai 71,8 kWh tapi jarak tempuh mencapai 530 kilometer. Harga berkisar Rp 379 juta. Mobil yang didesain untuk keluarga itu memiliki tiga baris kursi dengan kapasitas 7-8 penumpang.
Untuk segmen pembeli, dia mengatakan, mayoritas pelanggan BYD adalah pengusaha atau keluarga muda. Usia pelanggan berkisar 30-50 tahun. ”Harga yang kompetitif dengan fitur canggih tentu menjadi pertimbangan utama pelanggan memutuskan membeli mobil ini,” terangnya.
Di samping BYD, penjualan mobil listrik di PT Gatra Perdana Putra juga mengalami peningkatan. Direktur PT Gatra Perdana Putra Yudi Irawan Wijaya mengatakan, pihaknya menjual dua merek mobil listrik sekaligus, yaitu Hyundai dan Wuling. ”Penjualan bulanan rata-rata lebih dari 20 unit mobil EV,” kata dia. ”Kalau Wuling paling banyak dicari ya Binguo dan Air EV,” tambah Yudi.
Harga Binguo EV mulai Rp 279 juta. Kapasitas baterai 31,9 kWh dengan jarak tempuh 333 kilometer ke atas. Sementara Air EV dengan kapasitas baterai 17,3 kWh mempunyai jarak tempuh 200 kilometer. Harganya mulai Rp 184 juta.
Menurut Yudi, kunci berjualan mobil EV adalah sabar mengedukasi pelanggan. Para diler harus bisa meyakinkan calon pembeli bahwa penggunaan mobil EV lebih hemat dibanding mobil engine karena biaya operasional bisa ditekan. Dia menyebut, biaya mobil engine yang tidak terasa untuk bensin, oli, busi, filter, hingga pajak. Dalam kurun lima tahun, pengeluaran tersebut setara harga mobil.
Pihaknya membaca peluang di akhir tahun akan ada kenaikan penjualan. Tren kenaikan dilihat dari ramainya event Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025. Saat itu seluruh diler berlomba mengeluarkan koleksi terbaiknya. “Saat ini masih banyak yang inden juga untuk mobilnya. Jadi belum terkonversi ke penjualan,” lanjut Yudi.
Pendatang baru di Kota Malang, diler Chery juga melihat peluang yang besar pada penjualan mobil EV. Mereka mengunggulkan Omoda E5 EV untuk series mobil listrik. Kapasitas baterai 61,06 kWh dengan jarak tempuh 430 kilometer itu hanya dibanderol mulai Rp 369 juta per unit. ”Kami melihat pasar di Kota Malang sangat potensial. Selama ini hampir 50 persen penjualan di diler Surabaya berasal dari Kota Malang,” ujar Director of Sales Chery Sales Indonesia Budi Darmawan Jantania,(aff/dan)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang