MALANG KOTA – Kenaikan harga emas sepanjang November ikut mengerek inflasi Kota Malang hingga 0,16 persen. Harga emas menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,06 persen. Di bawahnya ada tomat 0,03 persen dan cabai merah 0,02 persen. Komoditas lain seperti bawang merah, kacang panjang, wortel, dan kangkung juga memberi dorongan tambahan.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin menyebut inflasi masih dalam batas aman. ”Lebih rendah dari inflasi provinsi dan nasional yang sama-sama 0,17 persen,” ujarnya kemarin. Kenaikan harga sejumlah komoditas dipicu curah hujan tinggi yang menekan produksi hortikultura serta menghambat distribusi.
Sementara permintaan pasar tetap tinggi, terutama untuk tomat, cabai, dan bawang merah. Kondisi itu membuat Kota Malang masuk kelompok daerah dengan inflasi relatif tinggi di Jawa Timur. Meski demikian, beberapa komoditas ikut menahan kenaikan harga.
Beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras turun karena pasokan meningkat beriringan dengan musim panen. Dari sisi pengendalian, Bank Indonesia Malang menilai tekanan inflasi mulai melandai. Menurut Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Febrina berbagai program membantu menjaga kestabilan harga.
Salah satunya Gelar Pangan Murah (GPM) yang berlangsung 19–28 November. ”Kami fokus pada program 4K supaya inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen secara tahunan,” katanya. Empat aspek itu meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Di sisi lain, pelaku pasar emas merasakan langsung kenaikan harga. Kenzie, kasir Toko Emas Wahyu Redjo di Malang Town Square menyebut logam mulia Antam terus menanjak hingga stagnan di Rp 2,5 juta per gram. Meski mahal, permintaan tetap tinggi sehingga stok semakin langka. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho