Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Berkat Pemberdayaan BRI, Batik Malessa Ubah Kain Perca Menjadi Fashion Premium

Aditya Novrian • Minggu, 14 Desember 2025 | 16:22 WIB
Photo
Photo

SOLO – Di salah satu sudut Kampung Dipotrunan, Tipes, Serengan, Surakarta, geliat mesin jahit berpadu dengan tangan-tangan perempuan yang sibuk menata kain batik, memotong lurik, hingga menjahit pola yang telah digambar. Dari tempat sederhana inilah karya Batik Malessa lahir, sekaligus menopang ekonomi keluarga di sekitarnya.

Madu Mastuti, pendiri Batik Malessa, memulai usaha ini pada 2018. Ia memiliki mimpi sederhana, yakni menciptakan ruang bagi ibu rumah tangga agar tetap berdaya tanpa meninggalkan peran utama dalam keluarga. Seiring waktu, usaha ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi perempuan di lingkungannya.

Madu menyadari banyak perempuan di sekitarnya memiliki keterampilan, namun tidak memiliki ruang untuk bekerja. Dari situ, ia membentuk Kelompok Wanita Berkarya, sebuah wadah bagi perempuan untuk belajar dan bekerja sambil tetap mengasuh anak. Tujuannya jelas, memberdayakan ibu rumah tangga agar dapat menopang ekonomi keluarga.

“Awalnya kami membuat daster berbahan kain perca, yaitu kain sisa yang dijadikan daster atau baju rumahan untuk ibu-ibu. Lama-kelamaan usaha berkembang hingga merambah ke bidang kerajinan dan fashion. Kami mulai memproduksi produk-produk premium seperti batik, lurik, dan tenun yang dipadupadankan menjadi produk fashion,” ujarnya.

Seiring waktu, Madu mulai mengombinasikan batik, lurik, dan tenun menjadi produk fashion yang lebih eksklusif. Dari bahan-bahan sederhana tersebut lahirlah produk premium yang memiliki ciri khas dan nilai jual tinggi, berbeda dari busana rumahan pada umumnya.

Nama Malessa bukan sekadar label dagang. Nama ini merupakan gabungan dari nama Madu dan anaknya, Alesa, sehingga merepresentasikan perjalanan pribadi sekaligus usaha keluarga. Seluruh legalitas usaha pun telah lengkap, mulai dari HAKI, NIB, hingga TKDN.

Produk Malessa terbagi dalam dua lini utama. Pertama, produk massal seperti daster dan busana rumahan yang dipasarkan melalui toko oleh-oleh besar. Kedua, produk premium hasil padu padan batik, lurik, dan tenun yang dirancang secara eksklusif.

Dalam proses produksinya, Malessa menerapkan standar quality control yang ketat. Setiap desain diawali dengan pembuatan sketsa agar tetap unik. Seluruh sisa kain juga dimanfaatkan menjadi berbagai produk turunan seperti tas, topi, bantal, dompet, hingga gantungan kunci. Prinsip zero waste dijalankan secara konsisten.

Keunikan tersebut membuat produk Malessa banyak dilirik pasar. Mulai dari MC Piala Dunia U-17 hingga sejumlah pejabat publik, beberapa tokoh pernah mengenakan busana karya Malessa. Kepercayaan ini menjadi bukti kualitas dan kreativitas usaha rumahan tersebut.

Rumah produksi Malessa kini tidak hanya menjadi milik Madu, tetapi juga para pengrajin di sekitarnya. Sebanyak delapan orang terlibat dalam usaha ini, terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki, mulai dari penjahit hingga kurir. Dua di antaranya telah didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Produksi Malessa meningkat hingga 40 persen dibandingkan awal usaha. Penambahan mesin jahit dan mesin potong yang diperoleh melalui pinjaman KUR BRI membuat proses kerja menjadi lebih efisien. Peningkatan kapasitas ini turut membuka peluang distribusi yang lebih luas.

“Alhamdulillah, dari tahun 2018 hingga 2025 usaha kami terus berkembang dan telah memberdayakan masyarakat sekitar. Kini kami memiliki mitra kerja dengan toko oleh-oleh dan toko batik di dalam maupun luar kota, bahkan di bandara,” ungkapnya.

Dukungan BRI melalui Rumah BUMN BRI Solo menjadi momentum penting bagi Malessa. Tidak hanya dalam bentuk permodalan, Madu juga mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan, mulai dari bimbingan teknis ekspor hingga program BRIncubator yang membekali UMKM dengan pengetahuan bisnis, digitalisasi, dan kesiapan ekspor. Pelatihan tersebut membuka wawasan baru bagi Madu dan timnya.

Berkat pendampingan tersebut, produk Malessa kini tersebar di berbagai toko, bandara, dan hotel di Surakarta. Produk mereka juga pernah dipamerkan di luar negeri, antara lain di Belanda, Swiss, dan Australia.

“Program-program BRI sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak ilmu baru, pendampingan, serta arahan peningkatan kapasitas agar UMKM bisa naik kelas dan siap ekspor,” katanya.

Bagi Madu, Malessa Fashion & Craft bukan sekadar usaha, melainkan rumah bagi mimpi banyak perempuan. Tempat mereka belajar keterampilan, berdaya, dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Ia menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan inti dari visi usahanya. Prinsipnya sederhana, ketika ibu-ibu berdaya, ekonomi keluarga dan masyarakat akan ikut menguat. Malessa menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan kolaborasi mampu mengubah kehidupan.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa BRI terus menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong UMKM agar berkembang dan naik kelas melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk Rumah BUMN BRI. Selain menyediakan akses permodalan, BRI juga menghadirkan pembinaan, pendampingan usaha, serta membuka akses pasar yang lebih luas hingga mancanegara.

Hingga akhir September 2025, BRI telah membina 54 Rumah BUMN BRI dan menyelenggarakan lebih dari 17 ribu pelatihan.

“Upaya ini merupakan bagian dari strategi BRI untuk memperkuat ekosistem UMKM di berbagai daerah di Indonesia. Dengan dukungan pemberdayaan BRI, UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar,” tegasnya.

Editor : Aditya Novrian
#BBRI #BRI