RADAR MALANG - Kejahatan digital merupakan salah satu kejahatan yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi korban. Modus tersebut biasanya berupa pencurian informasi dan data, serta penyadapan yang berakhir dengan pengurasan rekening korban. Salah satu penyebab hal tersebut adalah munculnya banyak website palsu yang dirancang untuk menipu korban. Belum lagi, muncul banyak website yang kerap mengatasnamakan instansi pemerintah sehingga korban mudah tertipu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara membedakan website pemerintah yang resmi dan yang palsu.
1. Menggunakan domain .go.id
Situs resmi umumnya menggunakan ekstensi domain yang relevan dengan bidangnya, misalnya pada situs pemerintah, ekstensi yang digunakan mencakup .go.id, .desa. id, dan .gov. Sementara itu, situs web yang palsu biasanya menggunakan domain yang tidak populer, seperti .gq, .tk, atau .tl.
2. Memiliki domain dengan penulisan yang benar
Pada umumnya, situs resmi memakai nama domain yang penulisannya tepat. Contohnya, alamat situs web resmi yang benar adalah dispendukcapil.batukota.go.id, sedangkan alamat situs web yang palsu adalah www.disdukcapilkotabatu.org dan https://disdukcapilkotabatu.com.
Tampak dengan jelas bahwa situs web palsu menggunakan nama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil secara salah. Alih-alih menggunakan ejaan “dispendukcapil”, website palsu menggunakan ejaan “disdukcapil”.
Baca Juga: Jumlah Laporan Penipuan Keuangan di Kota Malang Paling Tinggi
3. Isi dan kalimat dalam website terstruktur
Situs resmi pastinya akan menerapkan kalimat yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sementara itu, situs palsu biasanya menggunakan kalimat yang tidak teratur, susah dipahami, tanda baca yang tidak tepat, serta kesalahan gramatikal lainnya yang bisa menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak dapat diandalkan.
4. Memiliki Secure Socket Layer (SSL)
Ciri lain website resmi adalah telah menggunakan Secure Socket Layer (SSL). Tanda sebuah website telah mempunyai SSL adalah memiliki simbol gembok di address.
Website yang sudah memiliki SSL mengindikasikan bahwa pertukaran informasi yang berlangsung di jaringan internet lebih terlindungi. Oleh karena itu, pengiriman data tidak mudah untuk disadap, dimanipulasi, atau diambil secara ilegal.
5. Tidak mengandung banyak iklan
Situs web yang cenderung memiliki banyak iklan dapat menjadi tanda bahwa situs tersebut tidak dapat dipercaya. Contohnya, iklan tersebut menutupi seluruh halaman web dan kerap muncul untuk memaksa pengguna melengkapi survei, atau membawa mereka ke situs lain tanpa persetujuan.
Itulah lima cara membedakan website pemerintah yang resmi dan yang palsu. Pastikan untuk selalu melakukan pengecekan sebelum memasukkan data pribadi ke sebuah laman website agar terhindar dari risiko penyalahgunaan dan peristiwa yang tidak diinginkan setelahnya.
Disunting kembali oleh: Afida Rahma Tsabita
Editor : Aditya Novrian