RADAR MALANG – Pertumbuhan ekonomi yang stabil kerap menjadi keunggulan bagi pemerintah. Akan tetapi kondisi di lapangan justru berbanding terbalik, kondisi pasar kerja justru tidak akomodatif bagi lulusan baru atau fresh graduate tiap tahunnya.
Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pengganguran di Indonesia per Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar. 4,85 persen.
BPS mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah lulusan SMA dan SMK yang mendominasi, menunjukkan adanya mismatch atau ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri. Hal ini juga diperkeruh oleh persentase pengangguran di kalangan diploma dan sarjana, mayoritas adalah Gen Z.
Kemudian, penyebab selanjutnya adalah ketidakseimbangan permintaan dan penawaran (supply & demand). Dikutip dari kanal YouTube Malaka Project bahwa setiap tahun ada 2 juta orang memasuki pasar kerja, mulai dari lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi, hingga yang terkena PHK. Akan tetapi lapangan kerja yang tersedia tidak mampu menampung semua tenaga kerja.
Perkembangan teknologi dan AI juga menjadi faktor, membuat perusahaan mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia dan mengandalkan sistem otomatis untuk menekan biaya operasional perusahaan, dan meningkatkan efisiensi produksi.
Otomasi juga membuat sejumlah pekerjaan yang sebelumnya bergantung pada tenaga manusia, khususnya pada sektor manufaktur, logistik, dan lainnya. Akibat yang ditimbulkan adalah peluang kerja sektor formal kian menipis, sementara kebutuhan kerja dengan jobdesk yang spesifik dan berbasis teknologi terus meningkat drastis.
Penulis: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian