MALANG KOTA - Harga cabai rawit belum bisa dikendalikan. Sempat turun, pekan ini komoditas tersebut menembus harga Rp 100 ribu per kilogram. Melihat kondisi itu, Pemkot Malang bakal menyiapkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mengintervensi harga pasar.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) telah meninjau langsung stok di pasar maupun petani. Hasilnya, diketahui ada beberapa penyebab yang membuat harga cabai rawit belum terkendali.
Yang utama karena cuaca buruk yang mengganggu panen dan meningkatnya permintaan. ”Kami hari ini melakukan pengecekan kepada petani cabai rawit dan peternak ayam. Distribusi menjelang Lebaran ini sudah maksimal, tetapi memang harga belum bisa ditekan,” tuturnya.
Dia menyampaikan, untuk menekan cabai rawit, Kota Malang telah mendatangkan barang dari luar daerah. Yaitu dari Banyuwangi dan Jawa Tengah. Namun, penambahan itu ternyata masih kurang berdampak. Sehingga harga di pasaran tetap tinggi.
”Dari fakta itu dan kami melihat kondisi petani, setelah ini akan dibuat skenario menekan harga cabai. Kami akan rapat dengan TPID berdasar temuan di lapangan,” papar Wahyu. Pemilik kursi N1 itu mengatakan, skenario yang paling memungkinkan yakni menggelar Warung Tekan Inflasi (WTI).
Dalam program itu, Pemkot Malang akan memberikan subsidi agar harga komoditas tertentu di bawah pasaran. ”Misalkan harga jual petani Rp 80 ribu, nanti di WTI juga tetap Rp 80 ribu per kilogram. Kami lakukan itu agar harga lainnya mengikuti,” tambah pejabat pria berusia 59 tahun itu.
Terkait besaran anggaran dan pelaksanaan WTI, tergantung keputusan rapat TPID selanjutnya. ”Nanti TPID juga memetakan WTI mengambil barang dari mana. Bisa mengambil cabai dari petani Kota Malang atau dari luar daerah,” tandasnya.
Sunarto, anggota Kelompok Tani Sido Makmur, Kelurahan Lesanpuro, Kedungkandang yang dikunjungi pemkot kemarin mengatakan, harga cabai pada panen pertama berada di kisaran Rp75 ribu per kilogram. Kemudian panen yang kedua pada Selasa lalu (3/3) mencapai Rp 90 ribu.
Meski harga jual cabai naik dan menguntungkan petani, kondisi cuaca pada musim hujan menjadi tantangan tersendiri. Sunarto menyebut, intensitas hujan yang tinggi memicu perkembangan hama thrips dan kutu kebul yang lebih cepat.
Serangan hama tersebut berdampak langsung pada peningkatan penggunaan pestisida. ”Kalau kemarau penggunaan 50 persen, sekarang mencapai 100 persen. Musim kemarau per pekan hanya satu kali penyemprotan, pada musim hujan bisa dua sampai tiga kali,” terang dia. (adk/by)
Editor : A. Nugroho