MALANG KOTA - Pembayaran digital menggunakan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) makin digemari di Kota Malang. Itu terlihat dari nominal transaksi pada 2025 lalu, yang mencapai Rp 12,9 triliun. Jumlah itu meningkat drastis dibanding 2024 lalu, yang saat itu tercatat di angka Rp 7,4 triliun.
Total, sepanjang 2025 lalu terdapat 109 juta kali transaksi QRIS. Jumlah itu meningkat pesat dibanding transaksi pada 2024, yang tercatat sebanyak 60,5 juta kali.
Peningkatan merchant QRIS juga cukup signifikan. Dari 508,9 ribu pada 2024, menjadi 636,6 ribu pada 2025. ”Dari ratusan ribu merchant yang menggunakan QRIS itu, sekitar 70 persennya dari UMKM,” ujar Indra Kuspriyadi, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang.
Perkembangan ekosistem QRIS di Kota Malang terbilang sangat pesat karena didukung banyaknya mahasiswa. Sebab, rata-rata pengguna QRIS adalah warga berusia 17 sampai 30 tahun. UMKM di Kota Malang saat ini banyak ditopang oleh sektor kuliner, fashion, dan digital kreatif.
Di tiga sektor itu, teknologi seperti QRIS lebih familiar digunakan. Selain itu, perkembangan penggunaan QRIS di pasar tradisional seperti Pasar Rakyat Klojen dan Pasar Oro-Oro Dowo juga menyumbang pertumbuhan pembayaran digital itu.
”Potensi pariwisata di Kota Malang juga cukup besar, jadi dukungan untuk digitalisasi wisata makin mudah,” lanjut mantan Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara itu.
Sementara itu, salah satu UMKM di Kota Malang Bakso Djenggot di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Klojen mengaku 50 persen pelanggannya memilih membayar dengan QRIS. Itu didominasi anak muda. Sementara 50 persennya masih menggunakan uang tunai yang didominasi pelanggan berusia 35 tahun ke atas.
”Saya memakai empat jenis QRIS karena potongannya beda-beda,” ujar Abdul Malik, pemilik Bakso Djenggot. Outlet-nya sudah buka sejak 2018, namun memutuskan menggunakan QRIS pada 2024. Dalam sehari, Malik bisa mendapat laba kotor antara Rp 6 sampah Rp 7 juta. Karena 50 persen masuk di QRIS, dia baru bisa mengambil laba itu keesokan harinya. (aff/by)
Editor : A. Nugroho