Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS, Pemerintah Pastikan Kondisi Fiskal Tetap Aman

Satya Eka Pangestu • Selasa, 14 April 2026 | 12:56 WIB
MELAMBUNG TINGGI: Sentimen Global Tekan Rupiah ke Level Rp17.000. (Freepik)
MELAMBUNG TINGGI: Sentimen Global Tekan Rupiah ke Level Rp17.000. (Freepik)

JAKARTA, RADAR MALANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat dalam sepekan terakhir. Mata uang Garuda tersebut terpantau terus melemah hingga menembus angka psikologis baru di atas level Rp17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan pada Selasa, 7 April 2026, rupiah ditutup melemah pada level Rp17.105 per dolar AS.

Baca Juga: Holding Ultra Mikro BRI Makin Solid, Jangkau 34,5 Juta Debitur dan Dorong Ekonomi Kerakyatan

Kondisi ini memicu kekhawatiran di lapisan masyarakat mengingat dolar AS sering menjadi patokan harga berbagai komoditas penting.

"Itu nilai tukar Rp17.000 per dolar Amerika Serikat sudah masuk dalam stres tes kami," ujar Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, dalam acara Outlook Indonesia 2026 di Jakarta.

Pemerintah mengklaim pelemahan ini tidak akan memberikan dampak buruk secara langsung pada aspek fiskal negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa juga menegaskan bahwa pergerakan rupiah sangat bergantung pada fundamental ekonomi nasional.

Baca Juga: Tabungan Indonesia Menipis! Menkeu Purbaya Ungkap Saldo Tabungan Pemerintah di Bank Sisa Rp120 Triliun

Ia tetap optimistis bahwa stabilitas akan segera kembali seiring dengan masuknya aliran dana asing ke pasar modal.

"Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah, karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik," kata Purbaya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube KompasTV.

Ia menambahkan bahwa pemerintah terus memantau likuiditas sistem finansial agar tetap terjaga.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Tidak Ada Kenaikan Harga BBM Bersubsidi hingga Akhir 2026

Pelemahan ini ditengarai akibat sentimen risk-off global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian global tersebut membuat investor cenderung beralih ke aset aman atau safe haven seperti dolar AS.

Di lapangan, lonjakan kurs ini justru dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk menjual simpanan valuta asing mereka.

Salah satu gerai penukaran uang di Jakarta Selatan mencatat aktivitas jual dolar meningkat drastis dibandingkan hari-hari biasanya.

Baca Juga: Produsen Rengginang Malang Keluhkan Naiknya Harga Beras Ketan

Bank Indonesia (BI) menyatakan akan menempuh langkah strategis guna menjaga stabilitas pasar melalui operasi moneter.

Deputi Gubernur Senior BI, Destri Damayanti menyebut pihaknya akan mengoptimalkan seluruh instrumen yang dimiliki agar gejolak pasar tetap terukur.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil kebijakan cepat untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga barang kebutuhan.

Hal ini krusial agar imbas pelemahan mata uang tidak mengganggu daya beli masyarakat secara luas di masa mendatang.

Editor : Aditya Novrian
#mata uang rupiah #melemah #menteri keuangan Purbaya Yudi Sadewa #nilai tukar rupiah #dolar as