JAKARTA, RADAR MALANG – Dinamika pasar keuangan global terus memberikan tekanan berat terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Nilai tukar Rupiah terpantau terus mengalami pelemahan hingga melewati level psikologis yang menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan masyarakat luas.
Baca Juga: Bau Sampah di TPS Sulfat Malang Bikin Resah Warga
Kurs Rupiah pada perdagangan Kamis (23/4) menyentuh angka Rp17.310 per Dolar Amerika Serikat (AS).
Level ini merupakan titik terendah yang mendekati catatan sejarah krisis moneter 1998, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi nasional.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Dolar AS yang didorong oleh tingginya suku bunga di Amerika serta ketidakpastian geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Terobosan Widjianto, Petani Kota Batu yang Menghasilkan Es Krim Sehat
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan bahwa nilai Rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau lebih rendah dari nilai fundamentalnya.
Secara internal, ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan performa yang stabil dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi rendah, dan cadangan devisa yang mencukupi.
Baca Juga: Mengapa Singapura dan Malaysia Menolak? Simak Wacana Menakar Pajak Jalur Laut Terpadat Dunia
Tekanan yang terjadi murni berasal dari faktor eksternal yang membuat investor mengalihkan aset mereka ke Dolar AS.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudi Sadewa, menegaskan bahwa pelemahan ini bukan merupakan sinyal pemburukan ekonomi domestik.
Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, fondasi fiskal Indonesia dinilai masih sangat kompetitif.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar dan memastikan tidak ada kebijakan fiskal yang memperburuk ekspektasi publik di dalam negeri.
Baca Juga: Bupati Dorong IPNU-IPPNU Peka Dinamika Sosial
Meskipun fundamental ekonomi dianggap kuat, para pengamat mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada dan menyiapkan langkah strategis yang holistik.
Intervensi pasar oleh Bank Indonesia dianggap perlu dilakukan secara terukur guna menjaga likuiditas valuta asing.
Baca Juga: Pengaspalan Jalan Gondanglegi-Bantur-Balekambang Tinggal 7 Km, Proyek Dikebut hingga 2027
Selain itu, sinkronisasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci utama agar daya beli masyarakat tidak tergerus akibat potensi kenaikan harga barang impor maupun energi.
Editor : Aditya Novrian