JAKARTA, RADAR MALANG - Fluktuasi pasar keuangan global akhir-akhir ini memberikan tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fenomena penguatan dolar Amerika Serikat yang agresif memaksa otoritas moneter untuk bekerja ekstra keras menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Update Kasus Andrie Yunus: Empat Oknum TNI Didakwa Lakukan Penyerangan Terencana
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat terus mengalami pelemahan hingga menembus level psikologis yang mengkhawatirkan publik.
Kondisi ini dipicu oleh tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral AS.
Baca Juga: Wacana Menkeu Purbaya Pajaki Selat Malaka Terjegal, Siapakah Pemilik Selat Malaka Sebenarnya?
Menanggapi situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) bergerak cepat dengan menyiapkan sejumlah langkah penyelamatan strategis guna meredam volatilitas.
Gubernur BI menegaskan bahwa pihaknya senantiasa berada di pasar untuk memastikan keseimbangan antara penawaran dan permintaan valuta asing terjaga.
Salah satu solusi utama yang dijalankan adalah intervensi tiga jalur, yakni di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Langkah ini diambil untuk memberikan sinyal positif kepada investor bahwa otoritas moneter tetap memegang kendali penuh.
Selain intervensi langsung, BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing masuk ke dalam negeri.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS, Pemerintah Pastikan Kondisi Fiskal Tetap Aman
Strategi ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa yang menjadi "benteng" utama dalam menghadapi guncangan eksternal yang tidak terduga.
Menteri Keuangan juga memastikan bahwa koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperketat guna memantau dampak pelemahan rupiah terhadap APBN.
Baca Juga: Pemkot Malang Pastikan Proyek di Pasar Gadang Tak Akan Menutup Jalan
Pemerintah optimis bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid akan mampu melewati masa transisi yang sulit ini.
Publik dihimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi spekulasi berlebihan terhadap mata uang asing di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Transparansi kebijakan dan ketersediaan likuiditas yang cukup menjadi kunci bagi pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar di sisa tahun 2026 ini.
Editor : Aditya Novrian