Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Benarkah Harga Minyak Goreng Picu Inflasi di Kota Malang?

Nahdiatul Affandiah • Senin, 11 Mei 2026 | 14:34 WIB
EFEK EKONOMI GLOBAL: Seorang pedagang di Pasar Kebalen Kota Malang, menunjukkan salah satu produk minyak goreng yang dijual di tempatnya, kemarin. (Foto:Darmono)
EFEK EKONOMI GLOBAL: Seorang pedagang di Pasar Kebalen Kota Malang, menunjukkan salah satu produk minyak goreng yang dijual di tempatnya, kemarin. (Foto:Darmono)

 MALANG KOTA-RADAR MALANG - Tren kenaikan harga minyak sawit di pasar internasional memicu inflasi bulan April. Akibatnya, Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,05 persen dibanding bulan Maret. Kenaikan minyak sawit yang memicu mahalnya minyak goreng itu mengambil porsi 0,04 persen dalam inflasi, disusul air kemasan, dan angkutan udara.

 Transportasi menjadi tertinggi dengan andil 0,09 persen. Disusul kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,07 persen. Lalu perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen.

 Inflasi bulan April terjadi berdasar hasil perbandingan dari bulan Maret. Saat itu harga Bahan Pokok Penting (Bapokting) sedang tinggi karena masuk masa Hari Raya Idul Fitri. ”Karena permintaan masyarakat meningkat drastis saat Lebaran, jadi harga-harga di pasar ikut melonjak,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Umar Sjaifuddin.

 Secara year-on-year, dibanding April 2025, bulan April 2026 inflasinya cukup tinggi. Angkanya mencapai 2,7 persen. Komoditas makanan, minuman, dan tembakau memiliki andil paling tinggi dalam inflasi hingga mencapai 0,33 persen.

 ”Total inflasi dari komoditas makanan, minuman, dan tembakau itu mencapai 1,17 persen,” lanjut Umar. Sementara pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memiliki andil 0,26 persen dalam inflasi. Disusul kelompok penyedia makanan, dan minuman atau restoran sebesar 0,12 persen.

 Sementara itu, inflasi tahunan bulan April mencatat komoditas utama jadi penyumbang adalah emas perhiasan. Dipicu tekanan ekonomi global yang menyebabkan harga emas tidak stabil. Meski sempat menyentuh angka tertinggi hingga Rp 3,5 juta per gram, logam mulia kini stagnan di harga Rp 2,8 juta tiap satu gram.

 Laju inflasi tertahan karena penurunan harga daging ayam ras sebesar 7,38 persen. Disusul harga cabai rawit yang lebih besar penurunannya hingga 26,64 persen. Lalu penurunan lebih besar lagi yaitu telur puyuh yang mengalami penurunan harga hingga 28,61 persen. (aff/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
#ekonomi #inflasi kota malang #Kota Malang