MALANG, RADAR MALANG – Nilai tukar rupiah kini menembus Rp17.672 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (18/5/2026). Kondisi tersebut kian memicu kekhawatiran terjadinya kenaikan harga di berbagai kebutuhan pokok masyarakat.
Menurut analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, penguatan dolar AS terhadap rupiah dipicu oleh memanasnya konflik Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak dunia. Hal tersebut kemudian berdampak pada melemahnya mata uang rupiah.
Baca Juga: Prabowo Saat Rupiah Loyo: Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar, tapi Begini Kenyataannya
“Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah,” jelas Ibrahim, Jumat (15/5).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa penurunan nilai rupiah akan menyebabkan dampak beruntun pada harga LPG, pupuk, dan kebutuhan dasar masyarakat. Sebab, banyak barang di Indonesia yang masih bergantung pada impor.
“Maka transmisi dari krisis energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah ini adalah efek yang mematikan bagi LPG dan harga-harga kebutuhan pokok,” ungkapnya.
Lantas, barang apa saja yang terancam naik harganya? Berikut daftarnya.
Lima Kelompok Barang yang Terancam Naik
1. BBM nonsubsidi
Kombinasi antara pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga minyak dunia memicu pembengkakan biaya impor energi secara drastis. Akibatnya, beban impor komoditas tersebut berdampak pada dua faktor sekaligus, yaitu dari sisi harga global dan konversi mata uang. Hal tersebut berpotensi mendorong para pelaku usaha, seperti Pertamina untuk melakukan perubahan harga BBM nonsubsidi guna menyesuaikan dengan pergerakan pasar.
2. Bahan pangan hasil impor
Produk pangan hasil impor biasanya menjadi komoditas yang paling cepat terkena dampak dari melemahnya rupiah. Hal ini terjadi karena penurunan rupiah otomatis akan mendongkrak biaya pembelian bahan pangan dari luar negeri yang berbasis dolar AS.
Lonjakan harga berbagai bahan baku tersebut akan memicu kenaikan harga jual pada produk makanan, seperti mi instan, roti, tahu, biskuit, dan tempe.
3. Obat dan kosmetik
Kondisi yang sama juga menyasar sektor obat-obatan dan kosmetik. Bergantungnya Indonesia pada pasokan impor untuk pengadaan bahan baku farmasi dapat memicu kenaikan biaya produksi di industri terkait.
Akibatnya, harga obat, vitamin, alat kesehatan serta produk perawatan tubuh dan kosmetik yang memanfaatkan bahan baku hasil impor akan ikut naik.
Baca Juga: Anjloknya Rupiah Picu Kekhawatiran Inflasi, BI Optimalkan Instrumen Moneter
4. Pupuk
Masyarakat desa saat ini masih bergantung pada pupuk hasil impor. Jika depresiasi rupiah terus berlanjut, kondisi tersebut memicu kenaikan harga pupuk di berbagai sentra pertanian.
Menurut Direktur Eksekutif Celios, Bhima, kondisi itu tinggal menunggu waktu sampai akhirnya dapat benar-benar menekan kondisi perekonomian masyarakat di pedesaan.
5. Barang elektronik dan otomotif
Barang elektronik dan komponen otomotif banyak bergantung pada impor sehingga saat rupiah tertekan harga jual pun ikut merangkak naik. Bagi penjual, kondisi tersebut membuat pasar semakin sulit karena lonjakan harga akan menurunkan pendapatan dan konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja.
Baca Juga: Rupiah Melemah Hingga Rp17.529 Per Dolar AS, Menkeu Siap Mengambil Langkah Tegas
Ancaman PHK dan Kemiskinan
Selain ancaman kenaikan harga barang tersebut, pengamat pasar modal, Hans Kwee menilai pelemahan rupiah bahkan berisiko memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan meningkatkan kemiskinan.
PHK bisa terjadi ketika perusahaan tidak sanggup lagi mengorbankan keuntungan mereka demi menahan harga saat rupiah terus melemah.
Perusahaan pun terpaksa menaikkan harga jual produk dan barang tidak laku akibat penurunan daya beli konsumen. Akibatnya, perusahaan merugi, dan jalan terakhirnya adalah melakukan PHK terhadap karyawan.
Sementara itu, ia mengungkapkan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas berada di kelas menengah ke bawah akan sangat terguncang apabila rupiah terus melemah.