Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bank Indonesia Sampaikan Pemicu Utama Rupiah, Simak Langkah Strategis BI Stabilkan Rupiah Menjadi Rp16.500

Satya Eka Pangestu • Rabu, 20 Mei 2026 | 15:25 WIB
OPTIMISME BANK BI: Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Sampaikan ke Media Bahwa BI Optimis Tekan Mata Uang Rupiah Kembali Menjadi Rp 16.500. (Sumber: Istimewa)
OPTIMISME BANK BI: Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Sampaikan ke Media Bahwa BI Optimis Tekan Mata Uang Rupiah Kembali Menjadi Rp 16.500. (Sumber: Istimewa)

JAKARTARADAR MALANG - Bank Indonesia (BI) menyatakan sikap optimistis terhadap prospek penguatan nilai tukar rupiah yang diproyeksikan mampu kembali menguat ke kisaran level Rp16.500 hingga Rp16.400 per dolar Amerika Serikat (AS).

Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta.

Baca Juga: Rugikan Investor Asing, Purbaya Soroti Konflik Kepentingan ITDC yang Matikan Iklim Investasi Asing

Pernyataan ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan pasar keuangan global yang masih membayangi pergerakan mata uang domestik belakangan ini.

Pihak otoritas moneter meyakini bahwa kondisi pelemahan nilai tukar yang terjadi saat ini bersifat sementara.

Baca Juga: 358 ASN di Pemkot Malang Pensiun Tahun Ini, Tiga di Antaranya Pejabat Eselon II  

Langkah taktis dan strategis telah disiapkan secara menyeluruh untuk memastikan mata uang garuda bergerak stabil sesuai target rata-rata asumsi APBN.

Pemicu Utama Rupiah Melemah Menurut Bank Indonesia 

Dalam penjelasannya di hadapan parlemen, Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah belakangan ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika global dan faktor musiman domestik.

Baca Juga: Sejarah Baru! Menteri Keuangan Purbaya Katakan Presiden Prabowo akan Bacakan Langsung RAPBN 2027 di DPR

Secara musiman, periode April hingga Juni selalu diwarnai oleh lonjakan permintaan valuta asing yang sangat tinggi di dalam negeri.

Kebutuhan korporasi untuk pembayaran dividen, pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, serta penyediaan devisa untuk perjalanan ibadah haji menjadi pemicu utama meningkatnya permintaan dolar AS.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pasang Badan Klarifikasi Pidato Prabowo soal "Orang Desa Tak Pakai Dolar"

Sementara dari sisi global, tekanan diperparah oleh melonjaknya harga minyak dunia yang sempat menyentuh angka 107 dolar AS per barel, meningkatnya persepsi inflasi global, serta kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury ke level 4,6 hingga 4,7 persen.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat indeks dolar AS menguat secara global dan menekan mata uang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Kerahkan Sniper dan Tim Khusus, Kampung Narkoba Samarinda Berhasil Digerebek Bareskrim Polri

Langkah Strategis Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah

Menyikapi situasi tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Deni Prakoso, menegaskan bahwa Bank Indonesia mengambil langkah all out atau mengerahkan seluruh kemampuan dalam menjaga stabilitas moneter.

Terdapat tujuh langkah strategis yang dijalankan secara konsisten oleh BI untuk memperkuat nilai tukar di pasar keuangan.

Baca Juga: Rupiah Amblas ke Rp 17.688! Komisi XI DPR Cecar dan Pertanyakan Klaim Stabil Gubernur BI

Langkah-langkah taktis tersebut meliputi intervensi aktif di pasar valuta asing (valas), penguatan instrumen moneter pro-market seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga terus memperluas implementasi transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Baca Juga: Telah Sah! Hasil Sidang Isbat Putuskan Idul Adha Jatuh Pada Rabu 27 Mei 2026 Masehi

Sinergi erat antara Bank Indonesia, pemerintah, dan berbagai pihak terkait dipandang menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional dari guncangan eksternal.

Editor : Aditya Novrian
#Langkah Strategis BI #Perry Warjiyo #Komisi XI DPR RI #bank indonesia #rupiah melemah