MALANG KOTA, RADAR MALANG - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar belum memengaruhi harga bahan pokok. Pemkot Malang mengklaim harga tetap terkendali. Hanya saja untuk komoditas impor seperti kedelai terjadi lonjakan harga cukup tinggi.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi menjelaskan, sampai saat ini transaksi masyarakat untuk bahan pokok yang bukan impor masih normal. Belum ada tanda penurunan karena kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Baca Juga: Sri Mulyani Pastikan Barang Kebutuhan Pokok Tidak Kena PPN, Detail Kebijakan Masih Dikaji
”Kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pangan, kebutuhan pokok di Malang yang tidak terkait ekspor-impor masih normal,” ujarnya. Meski demikian, Eko mengakui kenaikan nilai tukar dolar tetap berpotensi memicu kenaikan harga. Khususnya pada komoditas yang masih bergantung pada impor.
Menurutnya, kenaikan kurs otomatis akan memengaruhi harga jual kedelai di pasaran. Kondisi tersebut perlu di antisipasi, terutama pelaku usaha kecil yang menggunakan bahan baku impor. Di Kota Malang, kedelai mayoritas dimanfaatkan untuk produksi tempe.
Terkait harga kedelai melonjak, Eko menyebut pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi harga kedelai di pasaran. Dengan demikian, langkah yang bisa dilakukan lebih mendorong masyarakat dan pelaku usaha agar lebih bijak dalam menggunakan produk impor.
Baca Juga: Harga Kebutuhan Pokok di Kota Malang Mulai Melandai
”Kami tidak bisa melakukan intervensi, harga impor sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Sehingga sekarang tergantung cara mengatur dari masing-masing pelaku usaha,” ujarnya. Sejauh ini, belum ada kenaikan harga tempe di pasaran.
Salah satu pelaku usaha keripik tempe Frimiyanti menuturkan, pihak nya tidak menaikkan harga keripik tempe. Karena dikhawatirkan akan mengurangi pembeli. Strategi yang di terapkan adalah memperkecil ukuran kemasan. ”Harganya tetap, namun plastiknya diperkecil. Karena yang beli di saya itu akan dijual lagi, sehingga mereka tidak mau kalau harganya yang naik,” terang Frimiyanti. (adk/gp)
Editor : A. Nugroho