JABUNG, RADAR MALANG – Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung Syariah Jawa Timur menjadi salah satu pelopor penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) di sektor peternakan sapi perah Malang. Langkah ini merupakan hasil kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Sistem ERP dinilai menjadi jembatan sekaligus dongkrak kemajuan ekosistem peternakan berbasis digital.
Acara peluncuran sistem ERP dan akses keuangan inklusif untuk sektor sapi perah di Jawa Timur itu dihadiri oleh berbagai pihak. Mulai dari Bupati Malang, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Deputi Kemenko Perekonomian, Sekda Pemprov Jawa Timur, serta Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan.
Presdir KAN Jabung Syariah Jawa Timur, Eva Marliyanti, mengungkapkan perjalanan panjang sebelum ERP berhasil diterapkan. Menurutnya, implementasi sistem tersebut butuh beberapa tahun untuk trial and error. “Atas nama keluarga besar KAN Jabung, kami menyampaikan terima kasih atas dukungan semua mitra,” ujarnya.
Eva menjelaskan, KAN Jabung berkomitmen meningkatkan kualitas hidup anggota melalui pemberdayaan komunitas secara menyeluruh. Koperasi ini aktif mengidentifikasi kebutuhan anggota, menyediakan pakan, hingga memperkenalkan teknologi dan keterampilan baru.
ERP sendiri hadir sebagai ujung dari proses panjang transformasi digital yang dibangun sejak awal.
Ujian terberat datang pada 2022 saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menghantam populasi ternak anggota. Dari 11 ribuan ekor sapi, jumlahnya menyusut drastis hingga tersisa sekitar 7.500 ekor pasca wabah. Kemunduran ini bahkan membawa kondisi koperasi mundur ke angka produktivitas tahun 2016.
Merespons krisis, KAN Jabung mengubah strategi dengan memperkuat pembiayaan anggota melalui sistem ERP.
Koperasi menggulirkan program baru bernama “Gadu” dengan skema angsuran berbasis kepemilikan dua ekor sapi. Pembiayaan bersumber dari dana internal KAN Jabung serta dukungan investor dan BPRS.
“Dengan ERP ini, langkah kami untuk memulihkan dan mengembangkan peternakan menjadi jauh lebih mudah,” ungkap Eva.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jatim Adhy Karyono menyebut, peternak sapi perah atau produsen susu juga menjadi kontributor besar dalam peningkatan ekonomi di Jatim.
“Jatim adalah lumbung pangan. Kami mewujudkan swasembada padi, jagung, tebu, hingga susu,” ujarnya di tengah acara penandatanganan nota kesepahaman program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) pada komoditas susu sapi perah di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, siang tadi (11/6).
Dia melanjutkan, sekitar 60 persen produksi susu di Indonesia berasal dari Jatim. Termasuk Kabupaten Malang yang menjadi salah satu sentra produksi susu.
Berdasar data dari BPS Jatim, produksi susu sapi di Kabupaten Malang mencapai 150.660 ton pada 2025. Jumlah tersebut merupakan 31 persen dari produksi di Jatim yang mencapai 475.394 ton.
Demi mendukung kesejahteraan produsen susu, Adhy mengatakan, petani juga penting untuk memahami literasi digital. Salah satunya melalui sistem ERP.
“Kami akan mengupayakan program ini bisa diterapkan di titik lain. Utamanya demi memberdayakan masyarakat supaya bisa mengakses keuangan dengan inklusi,” tandasnya. (*)
Editor : A. Nugroho