KEPANJEN, RADAR MALANG – Harga kedelai yang tak stabil berpengaruh terhadap produsen tahu maupun tempe. Khawatir ditinggalkan pelanggan jika menaikkan harga, para pedagang memilih mengurangi ukuran tahu dan tempe. Tujuannya agar tetap mengais keuntungan meski harga tak naik.
Widyawati, salah satu pedagang tahu dan tempe di Pasar Kepanjen mengatakan, harga tahu dan tempe yang dia produksi tidak pernah naik. ”Tapi ukurannya lebih tipis dari biasanya. Paling berkurang satu sentimeter. Kalau lebar dan panjangnya masih sama,” kata dia. ”Biar yang beli juga tidak terlalu merasa ada perbedaan,” tambahnya.
Baca Juga: Harga Kedelai di Sidoarjo Naik, Ukuran Tahu Menyusut
Biasanya dia menjual tahu dan tempe Rp 12.000 per kotak. Untuk satu kotak dengan isi enam potong, dia mengais keuntungan Rp 1.000. Sebab dia mengambil dari produsen di Kecamatan Kepanjen Rp 11.000 per kotak.
Sementara untuk tempe lebih murah. Satu papan dijual Rp 7.000 dengan harga dari produsen Rp 6.000. “Tapi kalau sepi seperti sekarang ini, saya terpaksa menjual Rp 6.000 untuk satu papan. Asalkan bisa laku saja,” kata perempuan asli Kepanjen itu.
Dia menyebut, tahu dan tempe yang dijualnya sudah dibayar tunai sebelum dibawa ke pasar. Sehingga jika ada yang tidak laku, risikonya ditanggung penjual. “Kalau banyak yang tidak laku, saya jual ke pondok pesantren dan dikonsumsi pribadi saja,” imbuhnya.
Baca Juga: Harga Kedelai Impor Mulai Turun
Terpisah, Tutik, salah satu produsen tempe di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen mengaku memilih mengurangi keuntungan jika ada kenaikan harga kedelai. “Untuk tempe, saya lebih memilih berkurang keuntungannya. Kalau biasanya untung Rp 1.000 per potong, kini menjadi Rp 800 per potong,” kata dia.
Dia menyebut, harga kedelai berkisar Rp 9.80010.000 per kilogram. Namun biasanya, dia membeli bahan baku per setengah kuintal supaya lebih terjangkau. Yakni dengan harga Rp Rp 480 ribu sampai Rp 500 ribu atau setara Rp 9.600 per kilogram. Kedelai diperoleh dari Kepanjen. “Di tempat lain masih ada yang sudah belasan ribu per kilogram,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho