Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dari Modal Rp 50 Ribu, Cinta Batik Semarang Tembus Pasar Internasional Lewat Batik Ramah Lingkungan

Aditya Novrian • Minggu, 14 Juni 2026 | 14:15 WIB
Dari Modal Rp 50 Ribu, Cinta Batik Semarang Tembus Pasar Internasional Lewat Batik Ramah Lingkungan
Dari Modal Rp 50 Ribu, Cinta Batik Semarang Tembus Pasar Internasional Lewat Batik Ramah Lingkungan

SEMARANG, RADAR MALANG – Cinta Batik Semarang berhasil berkembang dari usaha rumahan bermodal Rp 50 ribu menjadi UMKM batik yang menembus pasar internasional. Keberhasilan tersebut ditopang konsistensi menghadirkan batik tulis berbahan pewarna alami serta pemanfaatan program pengembangan usaha LinkUMKM BRI.

Usaha yang dirintis sejak 2006 oleh Iin Windhi Indah Tjahjani itu kini melayani pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Produk unggulannya berupa batik tulis dengan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan tanpa mengesampingkan keterjangkauan harga bagi konsumen.

Berawal dari Pelatihan Revitalisasi Batik Semarang

Cinta Batik Semarang lahir dari pelatihan membatik yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang dalam program revitalisasi batik Semarang. Dari pelatihan tersebut, Iin mulai mengembangkan usaha batik secara mandiri.

Perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Dengan modal awal sekitar Rp 50 ribu dan peralatan sederhana, Iin harus menghadapi berbagai kegagalan dalam proses produksi. Keterbatasan akses konsultasi teknik membatik membuatnya aktif mendatangi pameran untuk belajar sekaligus mencari inspirasi pengembangan produk.

Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Produk batik yang dihasilkan kini dikenal karena mengusung konsep ramah lingkungan melalui penggunaan pewarna alami.

LinkUMKM BRI Dorong Pengembangan Usaha

Dalam perjalanan usahanya, Iin mengaku memperoleh banyak manfaat setelah bergabung dengan ekosistem LinkUMKM BRI melalui Rumah BUMN.

“Mengenal LinkUMKM dari Rumah BUMN BRI, salah satu alasan kami bergabung karena banyak kegiatan yang bermanfaat untuk kemajuan usaha,” ujarnya.

Selain mengikuti berbagai program pengembangan kapasitas, Cinta Batik Semarang juga memanfaatkan layanan perbankan BRI, termasuk QRIS dan tabungan BRI untuk mendukung operasional usaha.

Saat ini pemasaran dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari penjualan langsung, marketplace, pameran, hingga kerja sama business-to-business (B2B). Strategi tersebut membuat jangkauan pasar semakin luas hingga ke luar negeri.

Produk Eksklusif dengan Sentuhan Kearifan Lokal

Salah satu kekuatan Cinta Batik Semarang terletak pada konsep produksi terbatas yang membuat setiap koleksi memiliki nilai eksklusif bagi konsumen.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menilai perjalanan Cinta Batik Semarang menjadi contoh bagaimana UMKM berbasis budaya lokal mampu memiliki daya saing tinggi apabila dikelola secara konsisten dan inovatif.

“Cinta Batik Semarang menunjukkan bahwa produk berbasis kearifan lokal dapat memiliki daya saing yang kuat ketika dikelola secara konsisten dan inovatif. Upaya menghadirkan batik ramah lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya menjadi contoh bagaimana UMKM dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Dhanny, BRI akan terus memperkuat peran LinkUMKM sebagai ekosistem pembelajaran dan pengembangan usaha agar semakin banyak pelaku UMKM yang mampu naik kelas dan bersaing secara berkelanjutan.

Hingga akhir Maret 2026, platform LinkUMKM telah dimanfaatkan lebih dari 15,57 juta pelaku UMKM di Indonesia. Platform tersebut menyediakan berbagai layanan pengembangan usaha, mulai dari pelatihan, perluasan pasar, komunitas bisnis, coaching clinic, hingga pendampingan legalitas usaha yang didukung lebih dari 840 modul pembelajaran.

Editor : Aditya Novrian
#UMKM Semarang #Cinta Batik Semarang #batik ramah lingkungan #LinkUMKM BRI #batik ekspor