MALANG KOTA - Capaian Investasi Kota Malang ditargetkan naik 20 persen, dari Rp 3,06 triliun menjadi Rp 3,6 triliun. Pemerintah optimistis mampu mencapai target, mengingat investasi naik setiap tahun.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMPTSP) Kota Malang Arif Tri Sastyawan mengatakan, kenaikan target investasi bukan tanpa alasan. Berdasarkan data tiga tahun terakhir, angka investasi selalu naik sehingga potensi tahun ini pun bertambah.
Pada 2023, Pemkot Malang mencatatkan investasi Rp 1,4 triliun. Kemudian 2024 naik menjadi Rp 2,4 triliun. Lonjakan terjadi pada 2025 lalu, yakni Rp 3,11 triliun.
"Tahun ini kami targetkan kenaikan lagi sebesar 20 persen (Rp 3,6 triliun)," ujarnya.
Arif menuturkan, sektor usaha yang paling banyak menyumbang investasi Kota Malang berasal dari bidang makanan dan minuman (mamin). Mulai dari kafe, restoran, dan rumah makan, dengan kontribusi 45 persen.
”Setelah itu disusul sektor properti sekitar 25 persen dan sektor perhotelan sebesar 20 persen,” jelasnya.
Meski terus meningkat setiap tahun, Arif mengakui, merealisasikan target investasi bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang muncul adalah keterlambatan pelaporan data dari investor. Seperti pada 2025 investasi baru memenuhi target menjelang akhir tahun.
Karena masih ada investor yang baru melaporkan nilai aset, permodalan, serta jumlah tenaga kerja pada periode akhir pelaporan. Pihaknya berupaya meminimalkan kendala dengan meningkatkan sosialisasi ke pelaku usaha. Tujuannya agar mereka rutin melaporkan kegiatan penanaman modal.
"Dengan tingginya nilai investasi, kami optimistis membantu serapan kerja di Kota Malang. Operasional tempat usaha baru pasti menyerap tenaga kerja," kata pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.
Sama dengan target investasi, pemkot menargetkan ada tambahan 20 persen serapan tenaga kerja pada 2026.
Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki menyampaikan, potensi untuk pendirian hotel baru masih sangat tinggi. Hal itu karena sebagai kota pendidikan dan saat ini mulai berkembang ke arah kota wisata
"Pertumbuhan menjadi kota wisata membuat kebutuhan sarana akomodasi meningkat. Itu dinilai oleh calon investor masih menjanjikan," tuturnya.
Dia menjelaskan, untuk hotel kelas bintang tiga dibutuhkan investasi Rp 150 sampai Rp 200 miliar. Sedangkan bintang lima mencapai Rp 500 miliar.(adk/dan)
Editor : Mahmudan