Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Inilah Rahasia Desa Pagelaran Malang yang Mampu Produksi Ratusan Gerabah Per Hari

Indah Mei Yunita • Selasa, 23 Juni 2026 | 18:12 WIB
Perajin gerabah di Dusun Krajan, Desa Pagelaran, Kabupaten Malang (Indah Mei Yunita/Radar Kanjuruhan)
Perajin gerabah di Dusun Krajan, Desa Pagelaran, Kabupaten Malang (Indah Mei Yunita/Radar Kanjuruhan)

 

PAGELARAN – Kampung gerabah di Dusun Krajan, Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran masih menggeliat. Total ada 150 perajin yang masih eksis. Dalam sehari, mereka mampu memproduksi hingga 100 gerabah.

Agus Riyanto, salah satu perajin gerabah mengatakan, dia sedang memenuhi pesanan untuk membuat wadah ari-ari.

“Dalam sehari bisa mencetak sekitar 100 unit gerabah, tergantung permintaan dari pemasok. Harganya sekitar Rp 1.600 per unit,” ujarnya.

Gerabah didistribusikan melalui pemasok untuk dijual ke pasar di Malang Raya hingga luar daerah. Mulai Pasuruan sampai Sidoarjo. Agus mengatakan, usaha tersebut sudah turun-temurun dari neneknya.

”Saya ini generasi ketiga. Melanjutkan usaha nenek sejak 1980-an,” terangnya.

Menurutnya, pembuatan gerabah cukup mudah. Tanah liat dicampur air, kemudian digiling sesuai tekstur yang diinginkan. Adonan tanah liat dibentuk menjadi gerabah menggunakan alat yang diputar alias perbot. Lalu dijemur di bawah terik matahari kurang lebih selama tiga jam.

“Setelah dijemur, lalu dibakar di atas tungku besar maksimal tiga jam,” kata pria berusia 54 tahun itu.

Biasanya, dia mengatakan, penjemuran dilakukan di halaman rumah masing-masing perajin. Mereka memang tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan produk-produknya. Mereka hanya memanfaatkan rumah dan halamannya yang berukuran sedang untuk semua kegiatan produksi. Sehingga ketika gerabah belum kering, para perajin itu tidak bisa memproduksi lagi.

Gerabah dari tanah liat dibuat dalam berbagai bentuk. Harganya bervariasi, tergantung ukuran dan fungsinya. Mulai Rp 2.000 untuk pot yang paling kecil dan Rp 250.000 untuk pot besar yang berfungsi sebagai hiasan.

Sementara itu, Ketua RW 02B Dusun Krajan Sukardi menyampaikan, kampung tersebut terdiri dari empat RT. Yakni dari RT 18 sampai 21. Pengembangan kampung tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Universitas Negeri Malang (UM).

“Dulu kampung ini dinamakan Kampung Getaan, sekarang Kampung Gerabah. Sekarang ada 150an perajin yang masih membuat gerabah,” pungkasnya.(yun/dan).

Editor : Mahmudan
#Gerabah Malang #Perajin gerabah #kerajinan Malang