MALANG, RADAR MALANG - Pemerintah Kota Malang terus mempercepat digitalisasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta pasar tradisional sebagai upaya memperkuat perekonomian daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Langkah tersebut dilakukan agar pelaku usaha mampu meningkatkan daya saing, memperluas jangkauan pasar, dan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan transaksi digital.
Baca Juga: Dua Dekade Perjuangan Rosidah Membesarkan UMKM Gula Merah dan Berkembang lewat KUR BRI Sumenep
Berbagai program telah dijalankan, mulai dari pelatihan pemasaran digital, pendampingan penggunaan media sosial, hingga penerapan sistem pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Pemerintah juga menggandeng Bank Indonesia, perbankan, serta komunitas pelaku usaha untuk memberikan edukasi mengenai pemanfaatan teknologi dalam kegiatan bisnis sehari-hari.
Baca Juga: Shopee Dukung Pemberdayaan UMKM Lokal di Sumberpucung dan Poncokusumo
Sejumlah pasar tradisional di Kota Malang, seperti Pasar Klojen, Pasar Oro-Oro Dowo, dan Pasar Sawojajar, mulai mengadopsi sistem pembayaran non-tunai. Inovasi tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat yang kini lebih terbiasa menggunakan dompet digital atau aplikasi perbankan saat berbelanja. Selain meningkatkan kenyamanan konsumen, digitalisasi juga membantu pedagang mencatat transaksi dengan lebih rapi dan efisien.
Meski demikian, proses digitalisasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua pedagang memiliki kemampuan menggunakan teknologi terutama pelaku usaha yang telah lama menjalankan bisnis secara konvensional. Oleh karena itu, pendampingan dan pelatihan secara berkelanjutan dinilai penting agar seluruh pelaku UMKM dapat mengikuti perkembangan teknologi.
Melalui digitalisasi yang terus diperluas, Pemerintah Kota Malang berharap UMKM dan pasar tradisional mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang lebih modern, inklusif, dan keberlanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat diyakini akan memperkuat posisi Kota Malang sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif dan digital di Jawa Timur.
Editor : Aditya Novrian