MALANG KOTA - Segmen pasar mobil listrik di Kota Malang semakin luas. Penjualannya meningkat, terutama sejak kenaikan BBM non-subsidi. Kondisi itu diperkuat imbauan pemerintah agar masyarakat menggunakan kendaraan hemat energi.
Pada semester pertama 2026, penjualannya merangkak naik.
“Sejak kenaikan harga BBM non-subsidi itu, animo masyarakat memesan mobil listrik makin pesat,” ujar Direktur PT Gatra Perdana Putra Yudi Irawan Wijaya kemarin (19/7).
Dilernya mengalami peningkatan penjualan hingga 35 persen dalam semester pertama tahun ini. Pelanggan datang dari kalangan masyarakat menengah ke atas yang tidak bisa memakai BBM subsidi. Pihaknya optimistis penjualan semester dua bakal lebih pesat lagi kenaikannya. Hal itu berdasarkan pengalamannya pada tahun-tahun sebelumnya.
Apalagi akhir Juli nanti ada event GIIAS yang menjadi tempat berkumpulnya para pencinta mobil. Moment tersebut diyakini bakal menambah lonjakan permintaan konsumen mobil listrik. Sementara tipe yang paling dicari dari Wuling yaitu Eksion dan Darion yang dibanderol mulai Rp 300 juta-an.
Peningkatan penjualan mobil listrik juga dialami Stefan Pranata, Sales Supervisor BYD Haka Malang. Kenaikannya cukup signifikan sejak pemerintah mengumumkan bebas pajak untuk kendaraan bertenaga listrik.
Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 11 Tahun 2026. Kemudian ditegaskan dalam surat edaran (SE) Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dengan nomor 900.1.13.1/3764/SJ tentang pembebasan pajak kendaraan bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) bagi kendaraan ramah lingkungan, yaitu kendaraan listrik berbasis baterai.
“Dari pertimbangan biaya operasional harian itu, pembeli jadi berpikir ke arah mobil listrik,” ujarnya.
Sebab, dia mengatakan, rasio pengeluaran bensin lebih tinggi dibanding charger mobil listrik. Untuk menekan biaya operasional, para pembeli memilih mobil listrik sebagai kendaraan hariannya.(aff/dan)
Editor : Mahmudan