Penguatan ini didorong oleh pelemahan indeks dolar AS yang berada di level 99,6 terendah sejak awal Juni 2026, setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls) periode Juli tercatat jauh lebih lemah dari perkiraan pasar. Data tersebut turut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa data ketenagakerjaan AS yang lemah menjadi faktor utama yang menekan dolar dan mendukung penguatan rupiah.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS," kata Lukman.
Dari sisi domestik, stabilnya cadangan devisa Indonesia turut menjadi penopang penguatan rupiah. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS, turun tipis dari 145,6 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Meski sedikit menurun, level cadangan devisa yang masih tinggi tersebut dinilai tetap memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menambahkan bahwa kondisi cadangan devisa yang relatif kuat memberikan dukungan tambahan bagi mata uang Garuda.
"Rupiah masih mendapatkan dukungan dari kondisi cadangan devisa yang relatif kuat," ujar Amru.
Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam beberapa hari ke depan, dengan kisaran pergerakan diperkirakan berada di rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Pelaku pasar juga tengah mencermati data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan The Fed dalam pertemuan September 2026 mendatang.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dikutip dari berbagai sumber