Kenapa Rupiah Terus Menguat? Ini 3 Faktor di Balik Penguatan Sepekan

Aqila Sahira Dewi • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Ilustrasi Seorang karyawan menghitung uang kertas pecahan 100.000 rupiah, sementara segepok uang kertas pecahan 100 dolar AS tergeletak di meja layanan sebuah tempat penukaran mata uang di Indonesia. (Getty Images/Dimas Ardian/Bloomberg)
Ilustrasi Seorang karyawan menghitung uang kertas pecahan 100.000 rupiah, sementara segepok uang kertas pecahan 100 dolar AS tergeletak di meja layanan sebuah tempat penukaran mata uang di Indonesia. (Getty Images/Dimas Ardian/Bloomberg)

MALANG , RADAR MALANG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan tren positif sepanjang pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,30 persen ke level Rp17.694 per dolar AS. Secara mingguan, mata uang Garuda tercatat menguat sekitar 0,73 hingga 0,76 persen.

Lantas, apa saja faktor yang mendorong penguatan ini? Berikut ulasannya.

1. Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan

Faktor pertama datang dari kebijakan moneter dalam negeri. Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan ini sekaligus menjadi RDG perdana yang dipimpin Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo pada akhir Juli lalu.

Suku bunga Deposit Facility turut dipertahankan di 4,75 persen, sementara Lending Facility tetap di 6,50 persen. Kebijakan ini dinilai konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global.

Baca Juga: Rupiah Terus Melanjutkan Tren Penguatan, Hari Ini 21 Agustus 2026 Tembus Rp17.688 per Dolar AS

2. Pertumbuhan Kredit Domestik yang Solid

Faktor kedua berasal dari sektor perbankan. Kredit perbankan Indonesia pada Juli 2026 tumbuh 13,58 persen secara tahunan, melampaui target BI yang berada di kisaran 8-12 persen untuk akhir 2026. Pertumbuhan kredit yang solid ini menjadi sinyal positif bagi investor terhadap kondisi fundamental ekonomi domestik, sehingga turut menopang penguatan rupiah.

3. Pelemahan Dolar AS Secara Global

Faktor ketiga datang dari sisi eksternal. Langkah pemerintah AS memperbesar program pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang turut menekan imbal hasil US Treasury, yang pada akhirnya melemahkan indeks dolar secara global.

Kondisi ini membuka ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat. Meski begitu, won Korea Selatan tercatat mengalami penguatan yang sedikit lebih tinggi, yakni 0,73 persen pada periode yang sama.

Meski tiga faktor tersebut mendorong penguatan, laju rupiah masih tertahan oleh defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 yang mencapai rekor tertinggi. Rilis data Neraca Pembayaran Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar sepanjang pekan ini.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.810 per Dolar AS Hari Ini 10 Agustus 2026, Ini Penyebabnya

Bank Indonesia menyatakan nilai tukar rupiah diperkirakan tetap stabil ke depan, didukung oleh penguatan respons kebijakan stabilisasi, mulai dari optimalisasi intervensi valuta asing hingga pendalaman pasar uang dan pasar valas dalam negeri.

 

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
kurs dolar rupiah ekonomi bi rate kredit perbankan