MALANG, RADAR MALANG – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (31/8) setelah Amerika Serikat menyerang sebuah pulau milik Iran di Selat Hormuz, memicu aksi balasan dari Teheran di tengah konflik Timur Tengah yang sudah berlangsung enam bulan.
Baca Juga: Trump Sebut Perundingan AS-Iran Dimulai, Fokus pada Selat Hormuz dan Program Nuklir
Kontrak minyak mentah Brent naik 2,85 persen atau 2,51 dolar AS menjadi 90,61 dolar AS per barel pada pukul 02.41 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,55 persen ke level 85,53 dolar AS per barel.
Pemicu lonjakan ini adalah serangan pasukan AS terhadap dua peluncur di Pulau Larak, Iran, Minggu (30/8), serangan Amerika pertama yang diketahui ke wilayah Iran sejak akhir Juli.
Sebagai balasan, Iran dilaporkan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, menurut media Iran yang mengutip Garda Revolusi Iran.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menyebut situasi ini sebagai fase eskalasi baru yang durasinya belum bisa dipastikan. "Bisa jadi beberapa hari, bisa jadi beberapa minggu," ujarnya.
Ia menambahkan, jika WTI menembus level resistensi 85,80-85,90 dolar AS, harga berpotensi terus naik menuju 87,69 dolar AS, sebelum mengarah ke 93,50 dolar AS, level tertinggi yang tercatat pada Juli.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang menjadi tempat mengalirnya seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah akhir Februari 2026.
Baca Juga: Jalur Minyak Dunia Terancam! Iran Tolak Buka Selat Hormuz sebelum Blokade AS Dicabut
Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut menyatakan kemungkinan sanksi sekunder baru terhadap Iran akan dikeluarkan setiap minggu, guna memutus akses Iran dari sistem keuangan berbasis dolar.
Editor : Aditya NovrianSumber : sumber dari berbagai sumber