Hargai Cabai Rawit di Malang Naik Terus, Ini Penyebabnya

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:32 WIB

 

Pedagang cabai rawit di pasar tradisional (foto Ramizard Rafsanjani/Radar Malang)
Pedagang cabai rawit di pasar tradisional (foto Ramizard Rafsanjani/Radar Malang)

 

KEPANJEN – Harga cabai rawit di Kabupaten Malang terus merangkak naik. Angkanya menembus Rp 60 ribu per kilogram. Diperkirakan bakal lebih mahal lagi, karena sejak pertengahan Agustus lalu trennya naik terus.

Pantauan di Pasar Kepanjen, harga cabai rawit berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 61 ribu per kilogram. Harga di pasaran tak jauh dari daftar harga yang tercantum dalam siskaperbapo.jatimprov.go.id. Untuk harga cabai rawit per kemarin (17/9) Rp 62.933 per kilogram.

Seorang pedagang di Pasar Kepanjen Lutfi Hanafie mengungkap faktor di balik meroketnya harga cabai belakangan ini.

”Harga naik karena pasokan cabai rawit berkurang,” ungkap Lutfi kemarin.

Biasanya dia dipasok tengkulak sebanyak 15 kilogram per hari. Namun sejak pertengahan Agustus lalu hanya dijatah maksimal 10 kilogram per hari.

”Minta tambahan jatah juga tidak bisa,” keluhnya.

Di lain pihak, petani cabai asal Desa Kasembon, Bululawang Achmad Syarifuddin mengatakan, pertanian cabai mengalami masalah. Yakni serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), seperti tungau, kutu kebul, trips, dan kutu duan. Imbasnya, produktivitas terganggu.

”Serangan OPT di sawah selama kemarau ini sangat berpengaruh. Sekitar 40 persen cabai di lahan saya berubah menjadi keriting. Hasil panen menurun,” kata dia.

”Perkembangbiakan OPT saat musim kemarau dua kali lebih cepat daripada musim hujan sehingga tanaman rentan keriting,” tambahnya.

Menurutnya, pemicunya adalah pasokan air berkurang selama musim kemarau, sehingga tanaman mudah penyakitan dan mati. Di lahannya, lanjutnya, pembagian air harus antre menunggu giliran, setelah baru mendapat air untuk disiramkan.

Terpisah, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Heri Suntoro membenarkan bahwa produksi cabai di Kabupaten Malang menurun. Kondisi tersebut terjadi karena rata-rata tanaman cabai mulai memasuki masa petik atau panen akhir.

“Khusus cabai rawit, DTPHP memproyeksikan produksi September depan bisa mencapai 87.421,2 kuintal. Produksi diperkirakan meningkat pada Oktober menjadi 108.714,4 kuintal, sebelum turun menjadi 83.631 kuintal pada November,” katanya.

Selain siklus panen, lanjutnya, kondisi lahan kering juga menjadi pemicu merosotnya produksi cabai. Heri menyebut petani cabai di Bumi Kanjuruhan menanam di lahan kering (tegal) lebih banyak dibanding lahan basah (sawah). Lahan tersebut mulai memasuki akhir masa panen dan diperkirakan habis sekitar Oktober depan, sebelum kembali ditanami akhir 2026 hingga awal tahun berikutnya.

Dia juga membenarkan bahwa serangan OPT juga turut mengganggu produksi. Petani menghadapi serangan kutu kebul, thrips dan tungau, sementara keterbatasan air saat kemarau membuat tanaman lebih rentan mengalami gangguan hingga gagal panen.

Heri juga mengatakan, kenaikan harga cabai tidak disebabkan permainan tengkulak. Pergerakan harga lebih banyak mengikuti mekanisme pasokan dan permintaan, termasuk kondisi pasokan cabai dari daerah lain.

Sementara itu, selisih harga cabai rawit di tingkat petani dan pasar berkisar Rp12 ribu per kilogram. Harga di tingkat petani berada di kisaran Rp 48 ribu, sedangkan di pasar mencapai Rp 60 ribu.

"Selisih tersebut juga berkaitan dengan risiko yang ditanggung pedagang. Cabai yang diterima dari petani tidak seluruhnya memiliki kualitas sama, sehingga pedagang harus melakukan penyortiran untuk memisahkan cabai rusak, busuk maupun yang tidak layak jual," tutur Heri.

Pergerakan harga cabai juga tidak sepenuhnya ditentukan daerah ini. Heri menyebut Pasar Induk Jakarta dan Kramat Jati menjadi salah satu barometer karena pasokan cabai berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kabupaten Malang sendiri merupakan salah satu daerah penunjang produksi cabai setelah Kediri dan Banyuwangi. Cabai dari Malang dipasarkan melalui Kediri maupun dikirim langsung ke Jakarta, sehingga perubahan pasokan di daerah lain dapat ikut mempengaruhi harga.

Untuk intervensi harga, Pemkab memiliki program subsidi yang biasanya dilakukan menjelang hari besar keagamaan, hari jadi kabupaten maupun momentum tertentu. Namun, pergerakan harga harian tetap bergantung pada kondisi pasokan dan permintaan di pasar.(ram/dan)

 

Editor : Mahmudan
panen cabai Harga cabai naik ekonomi malang