Dilansir dari Vice pada Selasa (11/5), rekaman CCTV yang dirilis oleh polisi Israel menunjukkan sebuah mobil putih dihantam oleh batu yang dilempar oleh warga Palestina di Jalan Jericho yang sibuk.
Warga Palestina tampak menyerang penumpang mobil tersebut, sebelum seorang petugas polisi Israel dengan senjata api turun tangan dan membubarkan massa.
Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya kekerasan dan kekacauan di Yerusalem. Yakni ketika polisi Israel menembakkan peluru karet, gas air mata, dan granat kejut ke sebagian besar pengunjuk rasa muda di luar Masjid al-Aqsa yang merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam.
Kekerasan tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Yerusalem yang oleh Israel ditandai dengan penangkapan Yerusalem Timur setelah Perang Enam Hari pada tahun 1967. Polisi juga telah memberi lampu hijau untuk pawai yang biasanya dihadiri oleh pemuda Yahudi nasionalis itu. Kegiatan tersebut mulai berlangsung melalui Gerbang Damaskus Kota Tua dan Lingkungan Muslim.
Polisi Israel telah mengumumkan bahwa demonstran dilarang memasuki kompleks Masjid al-Aqsa.
Konfrontasi sporadis dan kekerasan telah terjadi antara pasukan keamanan Israel dan pengunjuk rasa Palestina sejak awal Ramadhan. Hal ini dipicu oleh kemarahan atas keputusan pengadilan Israel yang mengkonfirmasi perintah penggusuran selusin keluarga Palestina di distrik Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. Tujuannya yakni untuk mendukung sebuah organisasi pemukim Yahudi.
Ratusan jamaah Muslim yang melakukan i'tikaf atau kegiatan tinggal di masjid selama sepuluh hari terakhir Ramadan, terluka di pagi hari selama kekerasan tersebut.
Jumlah orang yang terluka akibat insiden ini telah mencapai lebih dari 300 jiwa, dengan tujuh orang dalam kondisi kritis. Polisi Israel juga melaporkan seorang petugas yang dilarikan ke rumah sakit, dan sembilan lainnya terluka.
Ketegangan antara Palestina dan Israel telah mencapai tingkatan baru dalam beberapa hari terakhir. Kedua belah pihak saling menyalahkan. Sementara itu, keprihatinan internasional atas kejadian-kejadian di Yerusalem semakin meningkat.
"Semua pihak perlu mengurangi ketegangan di hari-hari terakhir Ramadhan," kata James Cleverly, menteri Inggris untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.
Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan berbicara melalui telepon hari ini dengan mitranya dari Israel Meir Ben-Shabbat untuk menegaskan kembali kekhawatiran serius pemerintahan Biden. Khususnya mengenai eskalasi baru-baru ini, dan mendesak otoritas Israel untuk mengejar tindakan yang sesuai selama pawai Hari Yerusalem.
"Mr Sullivan mengungkapkan komitmen pemerintah untuk keamanan Israel dan untuk mendukung perdamaian dan stabilitas di seluruh Timur Tengah, dan meyakinkan Mr Ben-Shabbat bahwa AS akan tetap terlibat penuh di hari-hari mendatang untuk mempromosikan ketenangan di Yerusalem," kata beber Sullivan.
Penulis: Talitha Azmi F. Editor : Farik Fajarwati