Akhirnya, hanya bisa ke Pasar Loak untuk membuat instalasi,” ungkap Lulusan Seni Rupa Murni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini. Selama kuliah Surabaya, Anggun terus menciptakan karya dan mengeksekusi idenya. Contohnya, tahun 2017 dia menciptakan instalasi yang bisa terbang dari balon helium. Ada 9 buah balon helium yang menceritakan impian atau cita-cita. Karyanya ini dipamerkan di Galeri Prabangkara, Surabaya. Kala itu, ada sebuah kejadian tidak terduga yang membuat Anggun cukup kecewa. Pasalnya, berulang kali alat untuk gas helium-nya pecah. “Ya, walaupun ada balon yang tidak bisa terbang. Akhirnya, saya kaitkan nilon agar seolah-olah terbang,” kenangnya sambil tertawa. Baginya, karya tersebut dinilai punya kesan unik tersendiri.
Pria yang pernah menjadi Sekretaris Dewan Kesenian (DKP) Kota Batu tahun 2015 ini menganggap, berkesenian itu harus bisa menciptakan ide kreatif dan tak lupa berjejaring dengan komunitas. Untuk itu, dia bergabung dalam Study Collective Gudsckull. Dari situlah, karya-karya Anggun semakin dilirik perupa di Jawa Timur. Akhirnya, dia semakin sering menjadi kurator (menyeleksi) karya seseorang untuk pameran. “Sebenarnya menjadi kurator itu mudah. Yang sulit itu adalah menciptakan moment dalam sebuah pameran,” katanya. Dia percaya bahwa sebuah pameran itu harus bisa berdampak manfaat bagi orang lain.
Semangat Anggun dalam berkarya pun akhirnya mulai didengar oleh pihak negeri Sakura (Jepang). Pada 8 Juli dan 20 Agustus 2022 lalu, dia diberikan kesempatan untuk menggelar pameran di Museum Kyushu Geibunkan, Tsushima, Chikugo. Dia tak menyangka bisa berkegiatan seni hingga mengenal budaya Jepang selama dua bulan. Dia berkunjung ke Jepang saat musim panas. Terik suhu 38°C di sana membuatnya ingin pulang ke Kota Wisata Batu yang dingin.
Belum lagi, urusan bahasa. Anggun hanya mengandalkan kemampuan Bahasa Inggris sedangkan Bahasa Jepangnya pasif. “Paling sulit itu waktu komunikasi memang. Apalagi, kalau ada orang Jepang yang mengunjungi pameran,” jelasnya. Sebagai informasi, beragam karya yang terpajang dalam pameran tersebut mengambil tema seni dan tradisi Indonesia dan Jepang.
Bahkan, ada juga karya bersama dari komunitasnya. Mulai karya lukisan hingga instalasi tiga dimensi bebatuan dan sebagainya. Uniknya, setiap pengunjung atau warga Jepang yang datang ke pameran akan diberikan kesempatan untuk menggambar. “Saya sengaja memberikan kertas dan pena. Lalu, pengunjung harus menutup mata dengan kain dan berkarya. Intinya, pengunjung dapat meluapkan emosi apapun baik itu rasa takutnya terhadap karya,” tambah Anggun. Setelahnya, karya pengunjung ini dapat dibawa pulang atau ikut dipajang di museum. (*/lid) Editor : Mardi Sampurno