Radar Malang - Dua prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian PBB, dilukai Israel.
Prajurit TNI dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) itu terluka akibat tembakan pasukan Israel di Lebanon Selatan.
Insiden itu terjadi di Naqoura, lokasi markas besar UNIFIL, yang terletak di dekat perbatasan Lebanon-Israel.
Baca Juga: Was-Was di Lebanon, Hisbullah dan Israel di Ambang Peperangan
Tembakan berasal dari tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Pelurunya menghantam menara observasi.
Di situ, kedua prajurit TNI sedang bertugas.
Mereka mengalami cedera ringan.
Serangan tersebut dipicu oleh pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah tersebut.
Israel mengklaim bahwa target tembakan mereka adalah anggota Hizbullah yang berada di sekitar pos UNIFIL.
Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer untuk menargetkan infrastruktur Hizbullah yang berpotensi mengancam wilayah Israel.
Mereka juga menyatakan bahwa pasukan UNIFIL telah diberitahu untuk mencari perlindungan sebelum serangan dilakukan.
Meski demikian, tembakan tersebut justru menghantam markas pasukan penjaga perdamaian.
Saat ini, kamp UNIFIL menampung sekitar 10.000 personil dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
UNIFIL telah menyerukan gencatan senjata sejak ketegangan antara Israel dan Hizbullah meningkat pada 23 September 2024.
Namun, posisi-posisi penting UNIFIL di Lebanon Selatan menjadi sasaran serangan.
Pemerintah Indonesia dengan tegas mengecam insiden ini.
Baca Juga: Israel Tambah Serangan ke Lebanon, Begini Kondisi Terakhir Perang Hamas vs IDF
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan yang melukai dua prajurit TNI.
Kedua prajurit tersebut segera dilarikan ke rumah sakit dan kini dalam kondisi stabil.
Dalam pernyataannya, Retno menegaskan bahwa serangan terhadap personel perdamaian PBB adalah pelanggaran hukum internasional dan tidak dapat ditoleransi.
Tak hanya Indonesia, sejumlah negara lain juga menyuarakan keprihatinan mereka atas serangan itu.
Italia, sebagai salah satu penyumbang utama pasukan UNIFIL, menyatakan bahwa tindakan Israel bisa dianggap sebagai kejahatan perang.
Sementara itu, Washington juga mengutarakan kekhawatiran atas keselamatan pasukan penjaga perdamaian di wilayah tersebut.
AS menekankan pentingnya menghormati hukum internasional serta keamanan UNIFIL.
Insiden itu kembali menyoroti ketegangan yang terus berlangsung di kawasan tersebut.
Khususnya di sepanjang Garis Biru, wilayah perbatasan yang dipantau oleh UNIFIL sejak konflik Israel-Hizbullah mencuat.
UNIFIL terus menjalankan tugasnya sebagai penjaga perdamaian.
Tetapi, situasi semakin memburuk.
Hal itu menimbulkan pertanyaan terkait masa depan operasional mereka di Lebanon Selatan. (Salma Audrie)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana