RADAR MALANG - Arab Saudi secara resmi menghentikan pembicaraan terkait perjanjian pertahanan ambisius dengan Amerika Serikat (AS).
Keputusan ini didorong oleh ketegangan atas konflik di Gaza dan syarat pengakuan terhadap negara Palestina yang menjadi titik krusial bagi Riyadh.
Baca Juga: Permohonan Banding Ditolak ICC, Netanyahu Hadapi Tekanan Surat Penangkapan Sah
Riyadh sempat melunakkan posisinya, menyatakan bahwa komitmen Israel terhadap solusi dua negara dapat membuka peluang kerja sama lebih lanjut.
Namun, serangan militer Israel di Gaza memicu kemarahan publik di Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah, mendorong Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menegaskan kembali dukungannya terhadap negara Palestina.
di sisi lain, AS, menawarkan kesepakatan kerja sama militer yang lebih sederhana. Perjanjian ini mencakup peningkatan latihan militer gabungan, investasi teknologi pertahanan, serta penempatan sistem rudal Patriot.
Baca Juga: Sara Duterte Ancam Bunuh Presiden Filipina, Marcos Jr Buka Suara
Namun, Arab Saudi tetap menolak perjanjian tersebut tanpa ada langkah nyata dari Israel terkait isu Palestina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik yang signifikan, terutama setelah serangan Hamas pada Oktober lalu.
Langkah menuju pengakuan Palestina dianggap berisiko memecah koalisi pemerintahannya, membuat proses normalisasi dengan Arab Saudi semakin sulit.
Baca Juga: Ketidakpastian Anggaran, Pasar Prancis Alami Guncangan Terbesar Sejak 2012
Riyadh menegaskan posisinya untuk tetap mendukung hak-hak Palestina, meskipun ini berarti memperlambat rencana kerja sama strategis dengan Washington. (rie)
Editor : Aditya Novrian