RADAR MALANG - Kelompok pemberontak Suriah melancarkan serangan besar terhadap kota Aleppo, yang sudah dikuasai penuh oleh pasukan pemerintah sejak 2016.
Serangan mendalam ini mengejutkan rezim Bashar al-Assad dan mengakibatkan pasukan pemerintah terdesak.
Warga setempat melaporkan bahwa pasukan Suriah dipukul mundur di beberapa distrik barat Aleppo, yang menandakan tantangan terbesar bagi rezim Assad dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Trump Ancam BRICS, Jangan Ciptakan Mata Uang Baru atau Hadapi Tarif Besar
Pemberontak yang terlibat dalam serangan ini didukung oleh Turki dan kelompok militan Hayat Tahrir al-Sham, yang sebelumnya berafiliasi dengan Al Qaeda.
Serangan ini terjadi pada Jumat malam, dengan pemberontak berhasil merebut beberapa wilayah di selatan Aleppo, termasuk kota Khansir dan kawasan industri Sheikh Najjar.
Mereka berusaha memutuskan jalur pasokan utama ke Aleppo, memberi tekanan lebih lanjut kepada pasukan pemerintah.
Baca Juga: Permohonan Banding Ditolak ICC, Netanyahu Hadapi Tekanan Surat Penangkapan Sah
Kondisi ini datang di tengah melemahnya dukungan dari sekutu-sekutu utama Suriah.
Hizbullah, yang telah mengirim ribuan pasukan untuk mendukung Assad selama perang, terpaksa menarik pasukannya setelah terlibat dalam konflik di Gaza.
Selain itu, Iran, yang telah lama mendukung Assad dengan mengirimkan milisi Syiah, menghadapi serangan beruntun dari Israel di Suriah dan domestik.
Baca Juga: Arab Saudi Hentikan Perjanjian Pertahanan dengan AS, Kemerdekaan Palestina Jadi Prioritas
Rusia, yang sejak 2015 terlibat dengan kekuatan udara untuk mendukung pemerintah Suriah, kini juga harus menghadapi tekanan perang di Ukraina.
Serangan kilat ini memaksa tentara Suriah untuk segera mengirim bala bantuan guna menghadapi pemberontak.
Namun, meskipun pasukan pemerintah berusaha keras untuk merebut kembali wilayah yang hilang, serangan besar ini menunjukkan bahwa ketegangan di Suriah semakin memburuk, dengan banyak warga yang ketakutan dan meninggalkan kota.
Bahkan, beberapa bagian kota Aleppo terlihat kosong, dengan banyak toko tutup dan aktivitas hampir terhenti.
Presiden Assad menanggapi serangan ini dengan berjanji untuk menghancurkan pemberontak, menyebut mereka sebagai “teroris” yang hanya bisa dihadapi dengan kekerasan. (rie)
Editor : Aditya Novrian