RADAR MALANG - Jalur Gaza kini memiliki jumlah anak amputasi per kapita tertinggi di dunia, ungkap Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Selasa (3/12/2024).
Konflik berkepanjangan telah menciptakan "pandemi cacat" yang memengaruhi ribuan anak.
“Banyak anak kehilangan anggota tubuh dan menjalani operasi tanpa anestesi,” ujar Lazzarini di platform media sosial.
Baca Juga: China Jawab Trump Terkait BRICS, Ancaman AS Hanya Memperkuat Tekad Kami
Ia menyoroti bahwa kisah mereka yang membutuhkan layanan medis khusus sering kali tak terungkap.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari lebih 22.500 korban luka selama perang, satu dari empat mengalami cedera yang mengubah hidup mereka.
Hal ini mencakup amputasi dan cedera tulang belakang yang membutuhkan rehabilitasi jangka panjang.
Baca Juga: Pemberontak Kejutkan Rezim Assad, Kota Aleppo Terancam Kembali Dikuasai
Sebelum perang, survei menunjukkan satu dari lima keluarga di Gaza memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas, hampir setengahnya adalah anak-anak.
Kini, situasinya semakin memburuk akibat konflik yang melumpuhkan sistem medis dan rehabilitasi.
Serangan Israel di Jalur Gaza, yang dimulai setelah serangan Hamas pada Oktober 2023, telah menewaskan lebih dari 44.500 orang, mayoritas wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 105.000 lainnya.
Komunitas internasional terus mengecam tindakan Israel, termasuk pemblokiran bantuan kemanusiaan dan penggunaan taktik kelaparan yang dianggap melanggar hukum internasional.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bahkan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan perang di Gaza.
Situasi ini menyerukan perhatian global untuk melindungi hak-hak anak dan memastikan layanan medis serta rehabilitasi yang memadai bagi mereka yang menjadi korban konflik. (rie)
Editor : Aditya Novrian