RADAR MALANG - Pasukan pemberontak Suriah, yang dipimpin oleh kelompok Hayat Tahrir Al-Sham (HTS), berhasil merebut kota strategis Homs pada Sabtu malam (7/12).
Keberhasilan ini menandai kemunduran signifikan bagi pemerintah Presiden Bashar Al-Assad, yang kini terpojok di ibu kota Damaskus.
Komandan HTS, Hassan Abdul Ghany, mengklaim bahwa Homs telah "sepenuhnya dibebaskan," dan menyatakan bahwa setelah menguasai kota tersebut, fokus mereka kini beralih ke Damaskus.
Baca Juga: Pemberontak Kejutkan Rezim Assad, Kota Aleppo Terancam Kembali Dikuasai
Dalam beberapa hari terakhir, pemberontak juga berhasil merebut kota-kota lain seperti Deraa dan Qneitra, memperkuat posisi mereka di sekitar ibu kota, dikutip dari Reuters.
Dengan jatuhnya Homs, yang berjarak sekitar 100 km dari Damaskus, ancaman terhadap kekuasaan Assad semakin nyata.
Pemberontak kini mengincar ibu kota sebagai langkah selanjutnya dalam upaya mereka untuk menggulingkan rezim yang telah berkuasa selama lebih dari dua dekade.
Baca Juga: Ketegangan Terus Meningkat, Israel Kembali Langgar Gencatan Senjata di Lebanon
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pasukan pemerintah mulai mundur, dan beberapa tentara Suriah bahkan melarikan diri ke Irak untuk mencari perlindungan.
Pemberontak menegaskan bahwa mereka tidak hanya berperang melawan tentara Assad, tetapi juga menawarkan kesempatan bagi pasukan pemerintah yang ingin membelot untuk bergabung dengan mereka.
Dengan situasi yang semakin memanas, banyak yang bertanya-tanya apakah ini akan menjadi awal dari perubahan besar di Suriah.
Baca Juga: Was-Was di Lebanon, Hisbullah dan Israel di Ambang Peperangan
Pemberontak optimis bahwa era baru yang berlandaskan keadilan akan segera terwujud. (rie)
Editor : Aditya Novrian