Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perang Dagang Memanas, China Terapkan Tarif Impor Baru ke Kanada untuk Produk Pertanian

Aditya Novrian • Senin, 10 Maret 2025 | 19:45 WIB
Supply chain representation with  forklift top view (Freepik)
Supply chain representation with forklift top view (Freepik)

BEIJING - China mengumumkan tarif impor baru untuk produk pertanian dan makanan asal Kanada pada 8 Maret, dengan nilai lebih dari US$2,6 miliar atau setara dengan Rp42 miliar.

Kebijakan ini merupakan langkah balasan terhadap tarif yang diberlakukan Ottawa pada Oktober 2024 lalu.

Menandai eskalasi baru dalam perang dagang yang dipicu oleh kebijakan perdagangan Presiden AS, Donald Trump. 

Menurut Kementerian Perdagangan China, tarif baru ini mulai berlaku pada 20 Maret.

Kebijakan ini merupakan respons terhadap bea masuk sebesar 100% dan 25% yang sebelumnya diterapkan Kanada terhadap kendaraan listrik, baja, dan aluminium asal China sejak lebih dari empat bulan lalu. 

Dari laporan pada laman Reuters, secara spesifik, China akan memberlakukan tarif 100% pada impor minyak lobak, bungkil minyak, dan kacang polong dari Kanada senilai lebih dari US$1 miliar.

Sementara itu, tarif 25% akan diterapkan pada produk perikanan dan daging babi senilai US$1,6 miliar. 

Sejumlah analis menilai bahwa langkah ini bisa menjadi peringatan bagi Kanada atas kedekatannya dengan kebijakan perdagangan AS.

Tanggapan China yang tertunda juga menunjukkan keterbatasan kapasitas kementerian perdagangannya, yang tengah menghadapi sengketa dagang dengan AS dan Uni Eropa. 

Kanada sendiri memberlakukan tarif pada Oktober 2024 sebagai respons terhadap kebijakan industri China yang dianggap merugikan.

Sebagai balasan, China memulai investigasi anti-dumping terhadap impor kanola Kanada, yang hingga kini masih berlangsung.

Tidak dimasukkannya kanola dalam daftar tarif baru ini dianggap sebagai peluang negosiasi bagi kedua negara. (ney)

Editor : Aditya Novrian
#Beijing #perang dagang #kanada #ekonomi #Impor #China #kenaikan tarif